Feeds:
Tulisan
Komentar

Dikdik Baehaqi Arif

Abstract

“Indonesia as a multicultural nation” should be understood as a social construction based on the pluralistic nature of the people and cultures in the Indonesian archipelago. This national imagination ushering the spirit of peaceful coexistence is reflected in the motto Bhinneka Tunggal Ika. Therefore, this paper argues that any Indonesian should possess a set of civic competencies to enhance their roles of citizens in a well-functioning society. These competencies, being the nation’s social and cultural capitals, can be developed either as school curricular programs, social and cultural programs or academic programs.

Kata kunci : citizenship, multiculturalism, civic education, civic competence

Pengantar

Negara bangsa Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok-kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain yang masing-masing plural (jamak) dan sekaligus juga heterogen (aneka ragam) (Kusumohamidjojo, 2000:45). Realitas pluralitas dan heterogenitas tersebut tergambar dalam prinsip Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti meskipun Indonesia adalah berbhinneka, tetapi terintegrasi dalam kesatuan. Hefner (2007:16) mengilustrasikan Indonesia sebagaimana juga Malaysia memiliki warisan dan tantangan pluralisme budaya (cultural pluralism) secara lebih mencolok, sehingga dipandang sebagai “lokus klasik” bagi bentukan baru “masyarakat majemuk” (plural society). Kemajemukan masyarakat Indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua cirinya yang unik, pertama secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan, dan kedua secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam (Nasikun, 2007:33).

Dalam pandangan Clifford Geertz (Hardiman, 2002:4), Indonesia ini sedemikian kompleksnya, sehingga sulit melukiskan anatominya secara persis. Negeri ini bukan hanya multietnis (Jawa, Batak, Bugis, Aceh, Flores, Bali, dan seterusnya), melainkan juga menjadi arena pengaruh multimental (India, Cina, Belanda, Portugis, Hindhuisme, Buddhisme, Konfusianisme, Islam, Kristen, Kapitalis, dan seterusnya). “Indonesia” demikian tulisnya, adalah sejumlah ‘bangsa’ dengan ukuran, makna dan karakter yang berbeda-beda yang melalui sebuah narasi agung yang bersifat historis, ideologis, religious atau semacam itu disambung-sambung menjadi sebuah struktur ekonomis dan politis bersama.

Lanjut Baca »

Iedul Fithri 1430 H

Dikdik Baehaqi Arif dan Keluarga menyampaikan

Selamat Hari Raya Iedul Fithri 1430 H.

Taqobbalallahuminna wa minkum

Mohon maaf lahir dan bathin

selamat hari raya

Gedung HMCH di Teropong Timur
Dik2002222222Waktu itu, sore hari, 18 Agustus 2001, selepas menyelesaikan registrasi – hari terakhir – sebagai mahasiswa baru di BAAK UPI, saya mendapati dua pengumuman, pertama bahwa setiap mahasiswa FPIPS wajib registrasi di Sekretariat BEM FPIPS dan kedua “setiap mahasiswa Jurusan PKn wajib registrasi ke himpunan”. Masing-masing dilengkapi dengan petunjuk arah yang sengaja menggiring setiap mahasiswa untuk sampai ke masing-masing gedung yang menjadi sekretariat kedua lembaga kemahasiswaan tersebut. Saya mencoba mengikuti alur registrasi yang disampaikan dalam pengumuman-pengumuman itu, beberapa mahasiswa “senior” menjadi tempat untuk saya bertanya kedua tempat registrasi itu.

Singkat cerita, setelah mengikuti alur registrasi dan kebaikan seorang “senior” yang saya tanya di sekitar selasar ruang kuliah Jurusan Pendidikan Ekonomi – waktu itu dekat gedung Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah dan Kantin IPS – saya berniat untuk registrasi di himpunan mahasiswa Jurusan PKn. Senior itu jelas-jelas menunjuk ke arah di mana di tempat itu ada sebuah gedung sekretariat kemahasiswaan yang saat itu masih ramai oleh beberapa “senior” yang sedang mewawancarai mahasiswa baru. Di gedung itu tertulis Himpunan Mahasiswa Civics Hukum “Democratic, intelligence, and religious”. Atas dasar petunjuk seorang “senior” tadi, saya memberanikan diri berjalan mendekati gedung itu, Nampak ada seorang senior yang keluar dari ruangan dan bertanya “hey, kamu rek kamana?”. Sambil menunjukkan dan menyerahkan format isian mahasiswa baru dari BEM FPIPS saya jawab “saya mau registrasi ke himpunan”,  “Geus ka fakultas can?” Tanyanya lagi, “Fakultas?” pikir saya waktu itu. Belum sempat saya jawab “geus maneh ka fakultas heula ke kadieu deui” sambil terus masuk ke ruangan sekretariat yang di atasnya tertulis jelas Himpunan Mahasiswa Civics Hukum.

Dik2038Dari gedung itu, selanjutnya saya berjalan melewati lapangan Gedung Garnadi – sekarang jadi tempat parkir motor – dan saya baca  “Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial”. Dalam hati saya “apa ini yang dimaksud fakultas oleh “senior” itu?, tapi da teu aya aktivitas mahasiswa”. Saya coba jalan lagi dan ternyata menemukan petunjuk arah BEM HMCH, saya ikuti dan sampai di gedung Sekretariat BEM FPIS, di belakang Asrama Putra II, depan Gedung P3MP. Setelah selesai proses registrasi di BEM FPIPS, selanjutnya saya kembali ke gedung tadi – ingat ucapan senior di gedung itu “ke mun geus ti fakultas ka dieu deui”.

Sesampainya di himpunan itu, saya ditanya “Mau ke mana?”, “Mau apa?” Saya bilang saya mau registrasi ke himpunan Jurusan PKn, mereka bilang, ini Himpunan Mahasiswa Civics Hukum, bukan Himpunan Mahasiswa Jurusan PKn, kalau mau ke Jurusan PKn tuh ke atas – sambil menunjuk ke Gedung Garnadi – tapi saya sampaikan bahwa tadi di bawah saya harus registrasi ke himpunan, terus seorang senior yang baik hati mengarahkan saya ke gedung ini, di sini tadi ada senior yang sudah menyuruh saya untuk ke fakultas dan selepasnya nanti kembali lagi ke gedung ini –.

Singkat cerita saya diperbolehkan masuk ruangan – tentu sebelumnya ada proses yang harus dilewati? – Di dalam ruangan itu, akhirnya saya tahu bahwa himpunan mahasiswa untuk Jurusan PKn adalah HMCH. Di dalam ruangan itu, saya diwawancarai oleh para panitia penerimaan mahasiswa baru, waktu itu (yang saya ingat) ada Haris Nugraha (haris jabrig), Mas Firman (sering panggil angkatan saya dengan doa rebo sato), Teh Nia (kini alm), Teh Dedeh, Teh Mia (angkatan 1999). Saya diwawancara sampai menjelang maghrib. Setelah itu, saya dibekali beberapa tugas, yang harus dikumpulkan hari Senin tanggal 20 Agustus 2001. Awalnya saya tenang-tenang saja, baru sadar di rumah kalau hari Senin yang dimaksud hanya terselang satu hari saja, padahal tugas yang diberikan cukup merepotkan juga.
 
Sabtu itu, merupakan kali pertama saya ke himpunan. Kali kedua adalah pada saat mahasiswa jurusan PKn dikumpulkan oleh pengurus himpunan pada hari Senin, 20 Agustus 2001 itu untuk kemudian siang harinya kami bergabung dengan seluruh mahasiswa yang berada di Fakultas PIPS.

Setelah proses registrasi selesai, dan perkuliahan sudah dimulai, aktivitas ke himpunan rasanya jarang saya lakukan, lebih banyak saya kumpul dengan teman-teman, main bareng ke kost-an, atau kalaupun ke himpunan hanya untuk memenuhi format perkenalan dengan senior yang membutuhkan identitas dan tanda tangan mereka yang kebetulan berada di himpunan.

Dua tahun di Teropong Timur
Seiring perjalanan waktu, perkenalan saya dengan himpunan semakin dekat terlebih mulai akhir semester kedua. Menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Sdr. Dian Sudiono sebagai Presiden, HMCH menggelar Mumas HMCH yang diantara tugasnya adalah meminta pertanggungjawaban Presiden dan memilih Presiden baru HMCH. Mumas itu kemudian menetapkan empat orang calon Presiden BEM HMCH, masing-masing adalah Cep Hari Hardiansyah, Zendri Waluya, Yusef Kurnia Fariddudin (masing-masing dari angkatan 2000), dan Usep Saefurrohman (angkatan 2001).

Dalam pemilihan presiden yang diselenggarakan secara langsung itu, Usep Saefurrohman memperoleh suara terbanyak dan terpilih menjadi Presiden Baru BEM HMCH. Kemenangan Usep yang angkatan 2001 itu, (mungkin) kali pertama tingkat dua menduduki jabatan presiden, sebelumnya (bahkan seterusnya – yang saya tahu) yang menjadi pucuk pimpinan di himpunan selalu mahasiswa tingkat tiga.

Kepengurusan HMCH waktu itu hanya dipegang oleh satu angkatan (2001), kakak kelas kami (2000) bergabung di DPM menjalankan fungsi legislasi. Saya diminta Usep untuk duduk sebagai Sekretaris Umum. Pengurus yang baru disusun sudah harus mempersiapkan proses penerimaan mahasiswa baru. Pengurus yang aktif ke himpunan untuk mempersiapkan penerimaan mahasiswa baru itu adalah Presiden dan saya sendiri sebagai sekretaris umum, sementara yang lainnya memilih untuk berlibur dulu di daerah masing-masing – angkatan 2001 tidak seperti angkatan 2000 yang mengikuti perkuliahan Semester Padat (waktu itu kali pertama SP di jurusan PKn).

Karena aktifitas Usep yang cukup padat sebagai tenaga pengajar pada lembaga pendidikan At-Taqwa di KPAD, saya yang waktu itu tinggal di Masjid Al Barkah di Gerlong Hilir, hampir setiap hari pulang pergi antara himpunan dan masjid (saya juga harus ngajar di TK dan TPA Al Barkah, sekaligus ngurus masjid). Selama tiga bulan aktivitas saya seperti itu, bolak balik himpunan dan masjid. Tapi, pada saat mempersiapkan kegiatan LDKM untuk mahasiswa angkatan 2002, saya tidak lagi dapat membagi waktu antara masjid dan himpunan, saya lebih banyak berkonsentrasi di himpunan. Sejak itu, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan menjadi pengajar di TK dan TPA Al Barkah karena waktunya sering tersita untuk urusan himpunan.

Himpunan adalah tempat untuk para pengurus berkumpul, mengadakan rapat, berdiskusi, termasuk tempat main juga. Tetapi bagi saya himpunan bukan sekedar sebagai sekretariat, melainkan tempat tinggal saya sejak tidak menjadi pengajar di Al Barkah. Selama tinggal di himpunan itu, pagi-pagi saya harus sudah bangun, ambil air wudhu untuk shalat subuh, atau bahkan langsung mandi. Awalnya, air tersedia melimpah di kamar mandi Lantai Dasar Gedung Garnadi atau di sekretariat Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang, yang gedungnya bersebelahan dengan Gedung Garnadi. Setelah beberapa waktu, air tidak tersedia lagi di tempat itu – saya tidak tahu karena apa – hanya yang jelas kalau siang hari, air itu akan tersedia lagi dan kemudian tidak ngocor lagi menjelang maghrib sampai pagi hari. Karena kondisinya seperti itu, untuk keperluan wudhu untuk shalat subuh, saya ambil dari bak penampungan air di Gedung Garnadi (di belakang Gedung) saya mengambil satu ember hanya untuk keperluan wudhu, sedangkan untuk mandi saya pergi ke Masjid Al-Furqon. Air untuk wudhu dari bak penampungan pun kemudian tidak tersedia lagi, karena penutup bak penampungan itu digembok paten, karenanya setiap pagi itu saya menuju gedung P3MP, di belakang Asrama Mahasiswa II, atau ke kamar mandi di Gedung FPIPS bawah – untuk bisa ambil air di kamar mandi itu harus bawa lilin, karena kamar mandinya sudah lama tak dialiri cahaya listrik – Di tempat itu juga tidak berlangsung lama, karena kondisi kamar mandi yang semakin hari kian memprihatinkan, tak terurus. Sering saya numpang wudhu atau mandi di kamar mandi Aspa I dan Aspa II. Terakhir saya mengambil wudhu sekaligus mandi di masjid Al Furqon – ini tempat yang paling nyaman. Selepas mandi dan shalat shubuh (biasanya) aktifitas selanjutnya adalah beres-beres himpunan, sehingga pada saat mahasiswa datang untuk kuliah, himpunan sudah bersih dan enak dipandang.

Siang hari di himpunan biasanya diisi oleh aktifitas himpunan, atau aktifitas mahasiswa menunggu kuliah, atau hanya untuk sekedar diskusi dan ngobrol-ngobrol. Sore hari, ketika mahasiswa pada pulang ke kost-annya/rumahnya masing-masing, kalau tidak sedang ada kegiatan biasanya himpunan kosong, yang tinggal hanya saya dan beberapa mahasiswa yang sama-sama menjadi penghuni masing-masing himpunannya, terutama tetangga dekat yang tinggal di Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi (HMJP). Malam hari biasanya saya manfaatkan untuk menyelesaikan beberapa tugas – di himpunan ada komputer himpunan, jadi bisa dimanfaatkan -. Pada awal-awal saya tinggal di himpunan, yang menginap di himpunan tidak hanya saya, tetapi ada pula kang Rouf (‘98), Cecep Risdianto (‘99), Haris (2000), Agus Babad (2000), Goleks (2000), Devi (2001), Usep Tiroy (2001), dan lainnya. Biasanya kalau sedang ngumpul bareng, kami akan ngaliwet dan makan bareng. Kang Rouf yang ’98 itu pinter ngaliwet dan selalu jadi yang pertama untuk patungan beli lauk pauknya (sarebu pertama tah!). Tapi, satu tahun terakhir, yang tinggal hanya saya ditemani Haris dan Agus Babad – mereka berdua datang ke himpunan sekitar jam 9 atau jam 10 malam, nonton, tidur, dan kemudian pulang lagi ke kost-an mereka pagi hari.

Aktifitas itu berlangsung selama hampir dua tahun, terlebih karena pada tahun kedua (Mei 2003) saya terpilih sebagai Presiden BEM HMCH untuk periode 2003/2004, dan satu hal yang terpenting, karena saya tidak memiliki kost-an, hehe….

Dik2006Pada saat tulisan ini dibuat, sekretariat HMCH yang beralamat di Gedung Teropong Timur Kampus UPI sedang dalam proses pembongkaran demi penataan kampus UPI yang semakin nyaman dan elok dipandang. Terlepas dari semua itu, himpunan dan semua cerita yang melingkupinya menyimpan kenangan yang menarik bagi saya. Himpunan bukan saja sekretariat lembaga kemahasiswaan tingkat jurusan, tetapi rumah kedua saya selama kuliah.

Terimakasih HMCH ku, terimakasih gedung teropong timur ku.

M. Quraish Shihab.

Jati diri manusia sebagai makhluk sempurna terletak pada pembentukan karakternya berdasar keseimbangan antar unsur-unsur kejadiannya, yang tercapai melalui pengembangan daya-daya yang dianugerahkan Tuhan.

Manusia adalah makhluk dwi-dimensi. Ia diciptakan Tuhan dari debu tanah dan ruh Ilahi. Debu tanah membentuk jasmaninya dan ruh Ilahi yang dihembuskan-Nya itu  melahirkan daya nalar, daya kalbu, dan daya hidup. Dengan mengasah daya nalar lahir kemampuan ilmiah; dengan mengasuh  daya kalbu lahir antara lain iman dan moral yang terpuji; dan dengan menempa daya hidup tercipta semangat menanggulangi  setiap tantangan  yang dihadapi.

Jati diri manusia sebagai makhluk sempurna terletak pada pembentukan karakternya berdasar keseimbangan antar unsur-unsur kejadiannya, yang tercapai melalui pengembangan daya-daya yang dianugerahkan Tuhan itu. Jati diri yang kuat serta sesuai dengan kemanusiaan manusia, terbentuk melalui jiwa yang kuat dan konsisten, serta memiliki integritas, dedikasi, dan loyalitas terhadap Tuhan dan sesama makhluk. 

Kendati setiap individu memiliki ego dan kepentingan-kepentingan pribadi yang dapat bertentangan dengan ego individu lain, namun mereka harus menjalin hubungan kerjasama, sebab manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri guna memenuhi kebutuhannya yang demikian banyak dan beragam. Guna langgeng dan harmonisnya jalinan kerja sama itu, maka harus dibangun atas dasar manfaat dan keuntungan bersama, bukan bertujuan  untuk menang sendiri atau kepentingan kelompok tertentu. Dari sinilah diperlukan moral, di mana seseorang mengorbankan sebagian kepentingan egonya demi mencapai tujuannya, bahkan demi membantu yang lain untuk mencapai tujuannya. Perlu dicatatat bahwa jiwa manusia merasakan kenikmatan rohani melebihi kenikmatan jasmani setiap berhasil mengendalikan dorongan nafsunya, selama kalbunya masih berfungsi dengan baik. Karena itu, dalam konteks meningkatkan kesadaran moral, perhatian harus banyak tertuju kepada kalbu.  

       

PEMBENTUKAN KARAKTER

Karakter berbeda dengan temperamen. Temperamen merupakan corak reaksi seseorang terhadap berbagai rangsangan dari luar dan dari dalam. Ia berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang, sehingga sangat  sulit diubah karena ia dipengaruhi oleh unsur hormon yang bersifat biologis. Sedang karakter terbentuk melalui perjalanan hidup seseorang. Ia dibangun oleh pengetahuan, pengalaman, serta penilaian terhadap pengalaman itu. Kepribadian dan karakter yang baik merupakan interaksi seluruh totalitas manusia. Dalam bahasa Islam, ia dinamai rusyd. Ia bukan saja nalar, tetapi gabungan  dari nalar, kesadaran moral, dan kesucian jiwa.  

Karakter terpuji  merupakan hasil internalisasi nilai-nilai  agama dan  moral pada diri seseorang yang ditandai oleh sikap dan perilaku positif. Karena itu, ia berkaitan sangat erat dengan kalbu. Bisa saja seseorang memiliki pengetahuan yang dalam, tetapi tidak memiliki karakter terpuji. Sebaliknya, bisa juga seseorang yang amat terbatas pengetahuannya, namun karakternya amat terpuji. “Sesungguhnya dalam diri manusia ada suatu gumpalan, kalau ia baik, baiklah seluruh (kegiatan) jasad dan kalau buruk, buruk pula seluruh (kegiatan) jasad. Gumpalan itu adalah hati”. 

Memang ilmu tidak mampu menciptakan akhlak atau iman, ia hanya mampu mengukuhkannya, dan karena itu pula mengasuh kalbu sambil mengasah nalar, memperkukuh karakter seseorang.

Dalam konteks membangun moral bangsa, maka diperlukan nilai-nilai yang harus disepakati dan dihayati  bersama.

Disepakati  karena kalau setiap orang diberi kebebasan untuk menentukan nilai itu, maka seorang perampok misalnya, akan menilai bahwa mengambil hak orang lain adalah tujuan dan bahwa kekuatan adalah tolok ukur hubungan antar masyarakat. Ini tentu saja akan merugikan masyarakat bahwa pada akhirnya merugikan diri yang bersangkutan sendiri.  Tetapi di sisi lain, jika kita tidak memberi kesempatan kepada manusia untuk memilih, maka ketika itu kita telah menjadikannya bagaikan mesin  bukan lagi  manusia yang memiliki kehendak, tanggung jawab, dan cita-cita.  Manusia harus memiliki pilihan, tetapi pilihan tersebut bukan pilihan orang perorang secara individu, tetapi pilihan mereka secara kolektif. Dari sini setiap masyarakat secara kolektif bebas memilih pandangan hidup, nilai-nlai, dan tolok ukur moralnya dan hasil pilihan  itulah yang dinamai  Jati diri bangsa.  Dengan demikian, jati diri bangsa terkait erat dengan kesadaran kolektif yang terbentuk melalui proses yang panjang. Memang  rumusannya dicetuskan oleh kearifan the founding  fathers bangsa, tetapi itu mereka  gali dari masyarakat dan karena itu pula maka masyarakat menyepakatinya. Jati diri bangsa Indonesia yang kita sepakati adalah Pancasila.

Nilai-nilai yang telah disepakati itu  harus dihayati, karena hanya dengan penghayatan nilai dapat berfungsi dalam kehidupan ini.  Hanya dengan penghayatan karakter dapat terbentuk. Tidak ada gunanya berteriak sekuat tenaga atau menulis panjang lebar tentang nilai-nilai dan keindahannya, jika hanya terbatas sampai di sana. Ini bagaikan seseorang yang memuji-muji kehebatan obat, tetapi obat itu  tidak  ditelannya sehingga tidak mengalir ke seluruh tubuhnya dan tidak menjadi bagian dari dirinya. Ia harus menelannya, lalu membiarkan darah mengalirkan obat itu ke seluruh tubuhnya, serta menyentuh dan mengobati bagian-bagian dirinya yang sakit,  bahkan lebih memperkuat lagi yang telah kuat.  

Selanjutnya, karena nilai-nilai yang dihayati membentuk karakter, maka nilai-nilai yang dihayati seseorang atau satu bangsa dapat   diukur melalui karakternya. Perubahan yang terjadi pada karakter, bisa jadi karena perubahan nilai yang dianut  atas dasar kesadaran mereka, dan bisa juga karena terperdaya atau lupa  oleh satu dan lain sebab. Dari sini diperlukan nation and character building.  Membangun kembali karakter bangsa mengandung arti upaya untuk memperkuat ingatan kita tentang nilai-nilai luhur yang telah kita sepakati bersama dan yang menjadi landasan pembentukan bangsa, – dalam hal ini adalah Pancasila, disamping membuka diri untuk menerima nilai-nilai baru yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar pandangan bangsa.  Inilah yang dapat menjamin keuntuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta kelestarian Pancasila sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa.

Semakin matang dan dewasa satu masyarakat, semakin mantap pula pengejewan-tahan nilai-nilai yang mereka anut dalam kehidupan mereka. Masyarakat yang belum dewasa, adalah yang belum berhasil dalam pengejewantahannya dan masyarakat yang sakit adalah yang mengabaikan nilai-nilai tersebut.Penyakit bila berlangsung tanpa diobati akan mempercepat kematian masyarakat. Bila penyakit masyarakat berlanjut tanpa pengobatan, maka kematian masyarakat tidak dapat terelakan.

Bila terdapat hal-hal dalam   diri angggota masyarakat yang bertentangan dengan jati diri dan tujuan itu, maka semestinya masyarakat meluruskan hal tersebut sehingga terjadi keharmonisan antara ego setiap individu dan kepentingan masyarakat. Sekali lagi terlihat disini betapa pentingnya melaklukan apa yang diistilahkan dengan  Character and Nation Building “

Masyarakat melakukan hal tersebut melalui pendidikan.  Disinilah terukur keberhasilan dan kegagalan pendidikan.  Karena itu pula  ukuran keberhasilan lembaga pendidikan – khususnya  Perguruan Tinggi-  bukan saja melalui  kedalaman ilmu dan ketajaman nalar para staf pengajarnya tetapi juga pada kecerdasan  emosi dan spiritual civitas akademikanya. Kecerdasan   intelektual-  jika   tidak dibarengi dengan kedua kecerdasan di atas, maka manusia bahkan kemanusiaan seluruhnya akan terjerumus dalam jurang kebinasaan. Sebaliknya jika kecerdasan intelektual dibarengi oleh kedua kecerdasan itu, maka keduanya akan membimbing seseorang untuk menggunakan pengetahuannya menuju kebaikan, yang pada gilirannya menghasilkan aneka buah segar yang bermanfaat bagi diri, masyarakat bahkan kemanusiaan seluruhnya.

Pembentukan karakter bangsa harus bermula dari individu anggota-anggota masyarakat bangsa, karena masyarakat adalah kumpulan individu  yang hidup di satu tempat dengan   nilai-nilai yang  merekat  mereka. Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu yang terbentuk   berdasar tujuan yang hendak mereka capai. Ini karena setiap individu lahir dalam keadaan hampa budaya, lalu masyarakatnya yang membentuk budaya dan nilai-nilainya, yang lahir dari pilihan dan  kesepakatan mereka . 

Membentuk karakter individu bermula dari pemahaman tentang diri  sebagai manusia, potensi positif dan negatifnya serta  tujuan kehadirannya di pentas bumi ini. Selanjutnya karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius, ber-Ketuhan Yang Maha Esa, maka tentu saja pemahaman tentang tentang hal-hal tersebut harus bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa / ajaran agama.

Untuk mewujudkan karakter yang dikehendaki diperlukan  lingkungan yang kondusif, pelatihan dan pembiasaan, presepsi terhadap pengalaman hidup dan lain-lain. Disisi lain katrakter yang baik  harus terus diasah dan  diasuh, karena ia adalah proses pendakian tanpa akhir. Dalam bahasa agama penganugerahan hidayat Tuhan tidak terbatas, sebagaimana tidak bertepinya samudra ilmu “ Tuhan menambah hidayatnya bagi orang yang telah memperoleh hidayat” dan Tuhanpun memerintahkan manusia pilihannya untuk terus memohon tambahan pengetahuan.  Praktek ibadah yang ditetapkan agama bukan saja cara untuk meraih karakter yang baik, tetapi juga cara untuk memelihara karakter itu  dari  aneka pengaruh negative yang bersumber dari dalam diri manusia dan  dari lingkungan luarnya, sekaligus ia adalah cara untuk mendaki menuju puncak karakter terbaik, -yang dalam ajaran Islam adalah upaya untuk meneladani sifat-sifat Tuhan yang tidak terbatas itu. Karena itu ibadah harus terus berlanjut hingga akhir hayat, dan karena itu pula pembentukan karakter adalah  suatu proses tanpa henti. 

Kalau merujuk kepada ajaran agama dan keberhasilan para nabi serta penganjur kebaikan, maka ditemukan sekian banyak cara yang mereka tempuh yang akhirnya mengantar kepada keberhasilan mereka.  Tentu tidak mudah hal itu  dipaparkan  secara utuh dalam kesempatan ini. Namun yang jelas, mereka tidak sekedar menyampaikan informasi tentang makna  baik  dan  buruk. Memang ini diperlukan untuk mewujudkan pemahaman yang mengantar kepada perubahan positif, tetapi jika terbatas hanya sampai disana, maka  ini  hanya mengantar kepada pengetahuan yang menjadikan pemiliknya pandai berargumentasi tentang kebaikan sesuatu- walau mereka tidak mengerjakannya  atau mengeritik keburukan yang mereka jumpai –walau mereka sendiri melakukannya. Hal serupa inilah yang kini tidak jarang terjadi dalam masyarakat kita.

Pengetahuan tanpa penghayatan, tidak dapat menimbulkan apa yang diistilahkan oleh pakar-pakar agama (tashawwuf) dengan halah  yakni kondisi psikologis yang mengantar seseorang   berkeinginan kuat untuk berubah secara positif.  Boleh jadi   keinginan berubah itu tidak muncul karena yang bersangkutan telah puas dengan  keadaannya buruk, yang dalam bahasa kitab suci Al-Qur’an  telah diperindah (oleh setan) keburukan amal-amalnya sehingga memperturutkan nafsunya (Q.S.Muhammad [47]:14) dan dengan demikian jangankan   menjadi climber – dalam  istilah  sementara psikolog – yakni pendaki kepuncak prestasi guna mengaktualisasikan diri,  menjadi camper yakni   berkemah pada pertengahan anak tangga  pendakianpun,  tidak mampu dilakukannya,  karena ia telah menjadi   quiter  berhenti bergerak,   menyerah kalah sebelum berusaha. Ini dalam bahasa Al-Qur’an dilukiskan dengan kalimat istahwaza ‘alaihihim Asy-Syaithan   (mereka telah dikuasai oleh setan  sehingga setan menjadikan mereka   lupa mengingat Tuhan” (QS. Al-Mujadalah [58]: 19).

Para nabi dan penganjur kebaikan di samping menjelaskan dan mengingatkan tentang baik dan buruk, mereka justeru lebih banyak melakukan olah jiwa dan  pembiasaan,  dengan aneka pengamalan yang  kalau perlu  pada mulanya dibuat-buat — bukan oleh dorongan kemunafikan tetapi — agar menjadi kebiasaan dan watak. Mereka juga  mengemukakan  aneka pengalaman sejarah masyarakat dan  tokoh-tokoh masa lampau.  Disamping itu, mereka  berusaha sekuat kemampuan untuk mengurangi sedapat mungkin pengaruh negative lingkungan, karena  melalui lingkungan, watak dapat berubah menjadi  positif atau negatif. Hanya saja perlu dicatat bahwa pada umumnya pengaruh negatif lingkungan lebih mudah diserap daripada pengaruh positifnya. Sedang pendekatan yang mereka lakukan guna menciptakan watak masyarakat adalah pendekatan   buttom-up, yang mereka tularkan kepada keluarga, lalu sahabat dan handai tolan dalam lingkungan kecil hingga mencakup seluruh masyarakat. Wallâhu a’lamu bish-shawwâb.

Sumber : Pusat Studi Al-Quran

Yogyakarta – Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kamis (23/07/2009) melalui Maklumat Nomor : 06/MLM/I.0/E/2009 mengumumkan penetapan tanggal 1 Ramadhan 1430 H berterpatan dengan hari Sabtu Pahing, tanggal 22 Agustus 2009. Menurut keterangan yang menyertai maklumat tersebut, penentuan tersebut sesuai hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Di dalam maklumat tersebut dinyatakan bahwa ijtimak menjelang Ramadhan 1430 H terjadi pada hari Kamis Kliwon tanggal 20 Agustus 2009 M pukul 17:02:48 WIB. Data astronomis yang menjadi dasar penentuan tersebut adalah tinggi hilal pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta ( f = -07° 48¢ dan l = 110° 21¢ BT ) = -01° 10¢ 20² (hilal belum wujud) dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam Hilal di bawah ufuk.

Idul Fitri dan Idul Adha 1430 H

Dalam maklumat tersebut, PP Muhammadiyah juga menyertakan Tausiyah Ramadhan yang salah satunya mengingatkan agar bulan Ramadhan ini dijadikan momentum untuk mempertautkan kembali hati yang mungkin selama Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden telah terjadi perbedaan pendapat dan pilihan sehingga menimbulkan keretakan hati. Selain penetapan 1 Ramadhan, Maklumat tersebut juga memuat penetapan 1 syawwal 1430 H jatuh pada hari Ahad Legi tanggal 20 September 2009 , dan ‘Idul Adha (10 Dzulhijjah 1430 H) jatuh pada hari Jum’at Wage tanggal 27 Nopember 2009 M.

Download File Maklumat

Tulisan Sebelumnya »