Golput haram?

Memberikan suara dalam pemilihan umum adalah hak setiap warga negara. Partisipasi yang berkualitas dari setiap warga negara merupakan syarat untuk keberlangsungan negara dan pemerintahan dengan baik. Oleh karena itu, diharapkan setiap warga negara dapat melaksanakan haknya itu.
Dewasa ini, suara setiap warga negara sedang diperebutkan oleh para calon anggota legislatif, baik di DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten Kota maupun di calon anggota DPD untuk mampu mengantarkan mereka ke senayan dengan label wakil rakyat. Wakil rakyat dimaksud adalah mereka yang mewakili dan menyampaikan aspirasi rakyat banyak dalam penyelenggaraan negara. Tentu saja sebagai wakil rakyat anggota legislatif tersebut harus dan tidak boleh tidak mengabdi kepada rakyat, menyerap aspirasi rakyat, memahami rakyat dengan sebaik-baiknya -keinginan, kesedihan, kebahagiaan, dll -. Artinya mengharapkan dukungan rakyat, berarti siap untuk mengabdi kepada rakyat.
Saat ini, muncul fatwa MUI yang mengharamkan Golput (golongan putih) dalam pemilu apabila ternyata dipandang ada calon pemimpin yang mumpuni memimpin bangsa, dan dapat membawa kemakmuran bagi rakyat. Terlepas dari adanya pro dan kontra, saya memandang bahwa sekali lagi golput adalah “hak” dan bukan “kewajiban”. Sebagai hak ia boleh diambil dan boleh pula tidak diambil. Karenanya, tidak perlu ada fatwa untuk golput, sebab di tengah arus informasi dan kemelekan politik (political literacy) warga negara saat ini, mereka dapat menakar kualitas calon-calon yang sedang bersaing di pemilu untuk kemudian memutuskan untuk memberikan pilihan atau untuk tidak memberikan pilihan.

3 thoughts on “Golput haram?

  1. kang dikdikng ikut komentar sedikit:

    masalah fatwa golput yang dikeluarkan oleh MUI memang menarik untuk di bahas. opini masyarakat memang seolah-olah MUI memfatwakan golput haram. tetapi ternyata tidak seerhana itu, jika kita mau melihat kelangkapan isi fatwa maka fatwa MUI tersebut terdiri dari beberapa point yang apabila kita membaca poin-poin tersebut mungkin akan ada interpretasi lain menyikapi fatwa tersebut. dan anehnya kenapa poin-poin tersebut jarang atu mungkin tidak pernah diutarakan dan dibahas

    tadi saya coba buka-buka beberapa situs tentang fatwa tersebut, dan bisa kita lihat interpretasi lain ari Fatwa NUI tersebut di situs: http://persis.or.id/?p=312

    semoga bermanfaat …….Nuhun

  2. Kang dikdik ikut komentar sedikit:

    kang saya juga sedang tertarik dengan pembahasan masalah fatwa golput. Fatwa memang sudah resmi keluar hanya saja ada beberapa poin dari fatwa tersebut yang jarang dibicarakan, opini yang muncul dimasyarakat memang MUI memfatwakan haram. tetapi kalo kita membaca sedikit lebih lengkap mungkin ada interpretasi lain dari poin-poin di fatwa tersebut.

    tadi saya sedang buka beberapa situs tentang fatwa tersebut salah satu situs yang mungkin memiliki interpretasi yang berbeda ada di situs: http://persis.or.id/?p=312

    selamat menikmati artikelnya kang, semoga bermanfaat.

    Nuhun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s