Kejaksaan (berulah lagi) Mencederai Rakyat

Tadi malam, saya sasksikan Apa Kabar Indonesia Malam yang menghadirkan Jasman Panjaitan Kapuspenkum Kejaksaan Agung dan seorang perwakilan dari ICW dengan topik “Munculnya kembali (baca diaktifkannya kembali) beberapa pejabat di Kejaksaan Agung”. Mereka yang diaktifkan kembali adalah yang pernah menggemparkan masyarakat dengan kelakuannya “main mata” dengan Artalyta Suryani (Ayin) dalam kasus BLBI, salah satunya Kemas Yahya Rahman (KYR) yang saat ini ditunjuk untuk menjadi Pengawas Korupsi. Kapuspenkum dengan menggebu-gebu menjelaskan bahwa KYR  sampai hari ini tidak pernah dinyatakan bersalah dalam kasus “main mata” dengan Ayin. Disamping itu penunjukkan KYR  dilakukan untuk memanfaatkan SDM yang ada di Kejaksaan Agung, karena ia mantan Kajati dan memiliki kualifikasi pada posisinya yang baru – daripada makan gaji buta di Kejaksaan Agung-. Karenanya dengan berlagak birokrat ia mengajak masyarakat untuk bertanya kepada diri sendiri, bertanya kepada hati nurani “Apakah salah menempatkan orang yang mempunyai kemampuan untuk duduk pada posisi yang tepat di Kejaksaan Agung? toh ia tidak pernah dinyatakan bersalah?”. Dalam pembicaraan selanjutnya (lagi-lagi) ia mengajak “mari kita menggunakan azas praduga tak bersalah, presumption of innocence” dalam melihat kasus KYR ini”.

Bagi saya, keputusan memberikan kembali jabatan strategis pada KYR adalah “mencederai rakyat”.  Tidakkah perilaku “main mata” itu mencederai kepercayaan masyarakat kepada lembaga kejaksaan dalam penegakkan hukum dan keadilan?. Apakah memang tidak ada lagi SDM yang berkualitas selain dia? Mengapa harus dia?. Masyarakat tahu, “karena kasus itu”, KYR akhirnya dinonaktifkan dari jabatannya semula. Terlepas bahwa secara hukum ia tidak pernah dinyatakan bersalah, tapi pasti “ada sesuatu” dengan KYR.

Perlu diingat, keputusan untuk menyatakan bersalah atau tidak bersalahnya seseorang (dalam satu kasus) tidaklah semata-mata ditentukan oleh peraturan hukum. Bahwa KYR secara hukum tidak pernah dinyatakan bersalah, itu benar, karena sampai hari ini tidak pernah terbit penetapan ia sebagai tersangka atau terdakwa, atau bahkan terpidana. Tetapi bahwa masyarakat terlanjur menilai ia sebagai sosok yang “bersalah (baca bermasalah)” di Kejaksaan Agung karena “main matanya” itu.

Apabila ini dibiarkan, maka ke depan akan muncul KYR baru dan perilaku “main mata” yang jauh lebih banyak. Karena perilaku itu “tidak akan pernah diyatakan bersalah” (secara hukum). Semestinya, Kejaksaan Agung tidak semata-mata (secara rigid) menyandarkan diri pada hukum an sich, tapi secara arif memahami kehendak masyarakat (aspek sosiologis) dalam penegakkan hukum dan keadilan.

Kalau sudah begini, bagaimana kita harus memotret  wajah penegakan hukum dan keadilan di negara kita ini? Baikkah? burukkah? Wallahu’alam bishahwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s