Akhirnya Kejagung menyadari Kekeliruannya

Kejagung Anulir Keputusan
Rabu, 25 Februari 2009 , 22:42:00

JAKARTA, (PRLM).- Derasnya kecaman publik terhadap pengangkatan eks Jampidsus Kemas Yahya Rahman dan eks Dirdik M Salim dalam tim satuan khusus supervisi kasus korupsi, membuat Kejagung menganulir keputusannya. Kedua pejabat itu pun akhirnya ditarik dari tim tersebut. 

“Karena semakin kuatnya dorongan-dorongan yang mempermasalahkan kehadiran mereka di Pidsus, Pak Jaksa Agung mengambil keputusan, mulai hari ini saya mengambil alih tugas Pak Kemas dan Pak Salim,” kata Jampidsus Kejagung, Marwan Effendy, dalam jumpa pers di ruang kerjanya, lantai 2 Gedung Bundar, Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Rabu (25/2).

“Saya lapor ke Pak Jaksa Agung bagaimana langkah berikutnya. Kalau kita biarkan tidak hanya akan mempengaruhi citra institusi Kejaksaan, tapi kerja mereka juga menjadi tidak optimal, karena terus dibayang-bayangi (kritik publik),” imbuhnya.

Kebetulan pula, menurut Marwan, pada 15 Februari yang lalu, Kemas purna struktural alias pensiun, karena telah berusia 60 tahun.

Dijelaskan Marwan, Surat Keputusan Jaksa Agung mengenai pengangkatan Kemas dan Salim masing-masing sebagai koordinator dan wakil koordinato kelompok satu tim supervisi akan segera direvisi dalam waktu dekat

“Karena saya tidak mungkin turun ke bawah, maka saya tunjuk Sesjampidsus Pak Muzami untuk tidak cuma menjadi koordinator kelompok satu, tapi kelompok dua juga,” pungkas Marwan.

Tim Pemantau Penyidikan Korupsi sendiri telah berdasarkan keputusan Jaksa Agung, Hendarman Supandji Nomor KEP.003/A/JA/01/2009 tentang Pembentukan Satuan Khusus Supervisi dan Bimbingan Teknis Tuntutan Perkara Tindak Pidana Korupsi, Perikanan, dan Ekonomi (Cukai dan Kepabeanan). SK tersebut dikeluarkan 22 Januari 2009 lalu.

“Kegiatan tim ini telah disosialisasikan ke kejakasaan di seluruh daerah. Kegiatan mereka tidak berbentuk inspeksi ataupun eksaminasi,” ujar Marwan.

Tim tersebut, lanjutnya, akan mengawasi pengusutan tindak pidana korupsi yang ada di ditingkat kejaksaan tinggi dan kejaksaan negeri. “Batasan kasus yang ditangani kejati adalah di bawah Rp 10 miliar dan kejari Rp 2,5 miliar. Ini harus dipantau jangan sampai ada kesalahan,” ungkapnya.

Kemas Yahya dan M.Salim yang dipercaya kembali masuk dalam tim pemantau korupsi daerah tersebut, dicopot dari jabatannya karena diduga terlibat dalam kasus suap Artalyta kepada Jasa urip yang masing-masing telah divonis lima tahun dan 20 tahun penjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam sidang kasus tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memutar percakapan antara Kemas dan Artalyta yang memberi suap kepada Urip.

Wakil Ketua KPK M.Jasin mengatakan bahwa penyelidikan kasus suap Artalyta kepada Urip belum ditutup. Pihak KPK masih mencari kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut. “Penyelidikan kasus Artalyta dan Urip belum ditutup,” katanya saat dihubungi via telefon kemarin.

KPK, lanjut Jasin masih berharap agar masyarakat memberikan informasi dan bukti lain terkait penyelidikan kasus tersebut yang hingga saat ini masih dilakukan pihaknya.”Sebab, selama ini, KPK hanya mendapatkan bukti berupa kesaksian dalam persidangan saja. Kalau keterangan saksi saja gantung, perlu bukti lain untuk menguatkan,” ujarnya.

Sebelumnya Koordinator Divisi Monitoring dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho mengatakan bahwa pengangkatan Kemas dan Salim dalam tim pemantau korupsi adalah kebijakan salah yang diambil Jaksa Agung Hendarman Supandji.

“Presiden SBY harus panggil Jaksa untuk dimintai keterangan soal pengaktifan kembali Kemas dan Salim sekaligus melakukan evaluasi kinerja penanganan korupsi,” ucapnya.

Kebijakan kontroversial yang dikeluarkan, lanjut Emerson, pada dasarnya semakin mengurangi kepercayaan masyarakat pada kejaksaan dan notabene pemerintahan SBY. “Karena Jaksa Agung adalah tangan kanan penanganan korupsi SBY,” ucapnya lagi.(A-109/A-154/A-26).***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s