Umat Aneh

Oleh K.H. SHIDDIEQ AMIIN

Sumber: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=62577

DALAM sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw. pernah mengingatkan, “Innal islaama bada`a ghariiban wa saya’udu ghariiban kama bada`a.” Maksudnya, perjalanan sejarah Islam tidak tetap dalam satu keadaan, tapi berubah dan bersifat fluktuatif (pasang surut).

Islam pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. di tengah masyarakat kafir Quraisy yang terasa asing dan aneh. Islam mengajak untuk bertauhid (mengesakan Allah), sedangkan mereka terbiasa menyembah berhala dengan jumlah yang banyak. Islam menuntun untuk berakhlakul karimah (mulia) di saat mereka telah terbiasa dengan ahlak madzmumah (tercela) dan bergelimang dosa.

Hanya, Nabi mengingatkan Islam akan kembali dianggap aneh, seperti pertama kali datang kepada kafir Quraisy. “Fatuuba lighuraba`i (beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh).”

Maksud aneh bukanlah mereka yang membuat hal-hal aneh apalagi nyeleneh! Waktu itu juga para sahabat bertanya, “Man hum ya Rasulallah?” (Siapakah orang yang dianggap aneh itu wahai Rasul?) Beliau menjawab, “Alladziina yushlihuuuna ‘inda fasaadinnaas (mereka adalah orang-orang yang tetap istikomah/konsisten melaksanakan kebaikan sesuai dengan ajaran Alquran dan sunah di saat orang-orang lain sudah berbuat kerusakan).”

Islam sampai ke Indonesia tidaklah langsung dibawa para sahabat dari Madinah ke Indonesia. Sebagaimana kita baca di dalam sejarah, Islam sampai ke Indonesia setelah melewati pusat-pusat agama budaya. Pusat-pusat agama budaya yang dilewati para pembawa ajaran Islam sebelum sampai ke Indonesia adalah Persia (Iran), India (anak Benua Asia), dan Cina.

Dalam perjalanan itu terjadi proses akulturasi antara pembawa ajaran Islam dengan masyarakat. Dari Persia ada agama Zarathustra (Zoroaster) dengan kitab suci Parasutra. Pengaruhnya sampai saat ini masih melekat dari kis

ah Zarathusta yang ada di kitab tersebut.

Demikian pula dari agama Sumeria Akkadia (4.000 SM), Tuhan tertingginya disebut Nebuila mempunyai anak laki-laki bergelar Bil dan anak perempuan bergelar Biltu (bahasa Arab; Bin dan Bintu). Anak laki-laki Nebuila bernama Bil Samek, berwujud kepalanya manusia, sedangkan tubuhnya ikan (kuda laut). Anak perempuan bernama Biltu Firish, berkepala perempuan cantik, bertubuh kuda.

Karena keduanya merupakan “dewa”,maka sayap menjadi pelengkap agar mereka bisa terbang. Jika kita bandingkan gambaran tersebut dengan gambaran “Buroq”, pembawa nabi saat Isra Miraj yang sering kita lihat di kalender-kalender kepercayaan dahulu, mirip sekali. Tubuhnya kuda, wajahnya perempuan cantik dan bersayap.

Ketika masuk ke India terdapat banyak agama. Di antaranya yang berpengaruh hingga detik ini, pengaruh dari agama Upanisad yaitu Yoga; mengatur nafas dengan membaca puji-pujian, yang dibaca “Aham Brahmasmi” berarti “Aku seorang brahma”. Ketika membaca “Aham”, napas ditarik dan kepala menengok ke kanan, membaca “Brahmasmi”, napas dilepas, kepala menengok ke kiri.

Pengaruh Cina, terutama agama tertua di dunia, Hiyang, yakniHiyang Firasat, dewa yang suka memberi firasat dengan menunggang berbagai binatang. Jika menunggang kupu-kupu, maka Hiyang tersebut memberi isyarat akan ada tamu. Jika menunggangi burung peniang (cungcuing) memberi firasat ada orang mati. Jika menunggangi burung hantu lantas berbunyi, memberi firasat ada orang mati.

Ada pula yang disebut Hiyang Kunyang (Dewa Kucing) dengan kepercayaan jika kita membunuh kucing, akan dibalas oleh Hiyang Kunyang. Di kalangan sopir kepercayaan tersebut masih kuat. Mereka lebih menghargai nyawa kucing daripada manusia. Bahkan, pada masyarakat dahulu ketika musim kemarau melanda, mereka memandikan kucing agar hujan turun.

Dongeng Kuntilanak pun pengaruh dari agama Hiyang, yang asalnya bernama Puntianak. Kepercayaannya jika ada perempuan melahirkan dan meninggal dunia, arwahnya tidak diterima di akhirat, berpunggung bolong jika dimasukkan paku akan kembali lagi menjadi manusia. Itu semua bersumber dari kepercayaan agama Hiyang, yang sampai hari ini masih banyak dipercaya.

Upacara tiga dan tujuh bulan ketika wanita hamil termasuk ibadah dalam agama Hiyang. Wanita hamil memasuki bulan ketujuh harus mandi tujuh kali di tujuh sumur, mengganti pakaian tujuh kali, mandi kembang tujuh rupa, membuat manisan rujak tujuh macam, terus dijual kepada anak-anak dengan uang pecahan genting.

Begitu Islam masuk ke Indonesia di dalamnya pun sudah terdapat agama-agama budaya dan kepercayaan lainnya, seperti animisme (kepercayaan akan roh). Muncul kepercayaan agar roh tidak mengganggu diberikanlah sesajen (sesajian). Cara-cara seperti ini masih ada di kalangan masyarakat kita.

Dinamisme juga marak yaitu kepercayaan akan kekuatan gaib pada benda-benda tertentu, seperti keris, batu ali, tombak, rambut bahkan tato (rajah). Tato dulu dipercaya mempunyai kekuatan magis bisa mengusir jin, hantu sehingga para kriminal dahulu menggunakan tato dengan tujuan jika lari (buron) ke hutan lebat, tidak akan diganggu.

Semua itu bukanlah adat, karena menurut kaidah ushul-fikih, “Alashlu fiel aadaati ma’qulul ma’na“. Maksudnya, adat itu rasional, dapat dimengerti. Hal ini berbeda dengan ibadah, “Alashlu fiel ibaadaati ghair ma’qulul ma’na.” Artinya, ibadah tidak bisa dimengerti sehingga mengapa salat Subuh dua rakaat dan Zuhur empat rakaat. Tidak ada jawaban! Orang hanya mengatakan, aturannya seperti itu.

Mudah-mudahan Allah SWT membimbing kita dengan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita tidak terjerumus ke dalam upaya mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.***

Penulis, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s