Malu itu Baik

Solihin 

Abu Mas’ud, Uqbah ibn Amr Anshari al Badri ra mengatakan bahwa Rasulullah saw berkata, ”Sabda Nabi paling pertama yang dikenal atau diketahui manusia adalah, ‘Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah semaumu’,” (HR Bukhari, Abu Dawud, Ahmad).

Jangan salah mengerti dengan hadis tersebut. Hadis di atas bukan berarti bahwa Rasulullah saw memberikan kebebasan tanpa batas pada manusia untuk bertindak semaunya. Sebaliknya, hadis itu merupakan sindiran bagi orang-orang yang tak punya malu berbuat kejahatan/kenistaan. Hadis yang disampaikan melalui Abu Mas’ud ra itu justru mengancam orang yang tidak mempunyai rasa malu dalam melakukan apa saja yang dia kehendaki dengan risiko ditanggung sendiri. Ungkapan seperti itu juga dinyatakan Allah dalam firman-Nya, ”Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS Al Fushshilat: 40).

Malu memang bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nuraninya. Rasa malu pula yang membuat seseorang akan dikejar-kejar rasa bersalah. Karena itu, hakikatnya malu adalah salah satu perangkat yang diciptakan Allah untuk mencegah kita dari perbuatan dosa. Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ”Malu hanya membawa kepada kebaikan,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya rasa malu itu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga iman kita agar sendi-sendinya tidak tercerabut dan bangunannya tidak hancur. Sebagai contoh, bila ada orang melihat massa ramai-ramai menjarah dan membakar toko, lalu orang tersebut sadar bahwa perbuatan tersebut tergolong tindakan tercela, maka ia akan mencegah dirinya agar tak ikut-ikutan menjarah. Sebagai mukmin ia malu melakukannya.

Andai para pejabat malu melakukan praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotis, tentu masyarakat kita tak akan serusak seperti sekarang ini. Di negara lain, Indonesia dikenal sebagai negara terkorup di Asia. Banyak pejabat, mungkin, selama ini merasa aman-aman saja ketika dia melakukan korupsi. Dalam hati mereka mungkin tak ada setitik pun rasa malu terhadap Allah yang jelas menyaksikan semua tindakan manusia. Mungkin mereka masih punya malu terhadap manusia lain, sehingga mereka merasa malu bila ketahuan. Tapi, rasa malu terhadap manusia pun mulai terkikis oleh anggapan, ”Ah, toh hampir semua pejabat melakukannya. Pejabat mana yang bisa kaya tanpa korupsi.”

Hilangnya rasa malu terhadap Allah ini sungguh menyedihkan. Orang yang tak punya malu terhadap Allah akan cuek melanggar perintah dan larangan-larangan-Nya. Semua itu dilakukan tanpa rasa dan tanpa malu. Semestinya kita bercermin pada sabda Rasulullah saw, ”Allah SWT itu lebih berhak untuk dimalui daripada manusia,” (HR Ashabu Sunan). Dengan memegang sikap ini — yakni lebih malu kepada Allah ketimbang kepada manusia — maka insya Allah kita terjaga dari jurang kemaksiatan dan kenistaan.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/45916/Malu_itu_Baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s