Kewajiban Memilih Pemimpin

Oleh Sanusi Uwes

Memilih pemimpin dalam Islam merupakan kewajiban yang tidak ada sunahnya. Memilih pemimpin merupakan kewajiban yang tidak terikat oleh jumlah apakah sedang sendiri, berdua, atau bertiga. Tidak terikat juga oleh waktu, apakah lama atau sebentar dalam memimpin. Sifat kepemimpinan harus ada walau saat sedang sendiri. Sebagaimana dinyatakan Rasulullah saw. bahwa, “setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (kullukum ra`in, wakullukum mas-uulun `an ra`iyyatihi).

Memimpin diri sendiri menandakan adanya faktor-faktor dalam diri manusia, yakni hati, kata, dan perbuatan harus selaras, serasi, dan sejalan. Dalam doktrin dikemukakan bahwa pemimpin di antara tiga faktor tersebut adalah qalb (hati, dalam dimensi rohani). Demikian juga saat kita berdua sebagaimana dalam rumah tangga, “bahwa laki-laki jadi pemimpin perempuan” (arrijaalu qawwamuuna `alannisa-a, Q.S. 4:34). Hal yang sama bila kita sedang bertiga sebagaimana diungkapkan hadis bahwa “bila kamu berjalan bertiga, hendaklah kalian menjadikan salah seorang di antaramu sebagai pemimpin” (Riwayat Abu Dawud).

Pada zaman modern, aturan memilih pemimpin terkait dengan siklus waktu yang telah disepakati. Akan halnya bangsa Indonesia, siklus pergantian pemimpin nasional, baik para pembuat undang-undang (legislatif) maupun pemimpin utama pelaksana kebijakan publik adalah lima tahun sekali.

Dalam keadaan bagaimanapun, memilih pemimpin hendaklah orang yang terbaik di antara kelompok kebersamaan. Syarat beriman dan bertakwa sebagaimana hasil ijtima ulama se-Indonesia di Padangpanjang, merupakan hal yang sangat pokok. Syarat utama lainnya adalah jujur memegang peraturan perundang-undangan dapat dipercaya atas kemampuannya memimpin, baik jasmani maupun rohaninya, transparan (tidak selingkuh) dalam pertanggungjawaban atas segala yang diperbuatnya, cerdas, serta cepat memahami persoalan lantaran keluasan ilmu dan keterampilan berpikirnya. Semua syarat tersebut merupakan karakter pemimpin yang dapat membawa kesejahteraan secara berkelanjutan.

Peringkat tertinggi dalam memenuhi persyaratan pemimpin tersebut, arahnya dapat beragam. Cerdas dalam berpikir generik sehingga cepat membuat generalisasi dalam menghadapi persoalan-persoalan masyarakat yang bersifat general, tentu berbeda ragam cerdasnya dengan berpikir spesifik tentang keterampilan teknis bidang tertentu. Pribadi yang memenuhi syarat pemimpin bangsa tidak sama dengan pemimpin yang memenuhi persyaratan bagi penggembala sapi. Cocok memimpin pabrik belum tentu memenuhi persyaratan cerdas dalam memimpin perdagangan. Ajaran juga membedakan antara syarat pemimpin perang, yakni luas ilmu dan kuat fisik (basthatan fil ilmi wal jismi, 2:246) dengan pemimpin pembuatan perundang-undangan, yakni iman dan takwa (4:138-140). Kategorisasi jenis persyaratan bagi keragaman corak kepemimpinan tersebut, demikian ditegaskan sehingga Rasulullah saw. dalam keadaan tertentu memberikan isyarat bahwa orang durhaka pun kadangkala dapat memperkuat agama (kanaddiinu yu-ayyadu birajulin faajirin).

Ibn Taimiyah sejalan dengan isyarat Rasulullah saw. tersebut, sempat mengatakan, lebih baik ada pemimpin dari orang durhaka daripada sama sekali tidak ada pemimpin. Pilihannya adalah yang terbaik, sebagaimana diungkapkan Rasulullah saw., “Bila Anda memilih seseorang jadi pemimpin, padahal Anda tahu ada orang yang lebih baik daripadanya, maka sungguh Anda telah mengkhianati Allah, Rasulullah saw., dan orang-orang yang beriman.”

Tidak dapat dimungkiri bahwa pemimpin merupakan representasi bangsa yang dipimpin, atau representasi kelompok rezim, partai, golongan, atau kelompoknya. Perbedaannya, bila si pemimpin merupakan representasi masyarakat yang dipimpin, sang pemimpin tersebut muncul dari dan dengan tradisi dan budaya masyarakat, kabilah, suku, atau bangsa tersebut. Ketidaksesuaian produk kebijakan dengan tradisi atau budaya masyarakat bangsa yang dipimpinnya cenderung akan mendapat penolakan betapa pun rasionalnya kebijakan tersebut.

Manakala pemimpin tersebut merupakan representasi kelompoknya saja, sangat mungkin penghayatan terhadap tradisi dan budaya masyarakat atau bangsa yang dipimpinnya mempunyai jarak. Hal ini secara beruntun akan berakibat keluarnya kebijakan atau malah peraturan-peraturan yang berbeda dan mungkin sekali bertentangan dengan tradisi dan budaya masyarakat yang dipimpinnya.

Dalam kaitan inilah pantas direnungkan ucapan yang sempat disampaikan oleh Abu Bakar Shiddieq yang menyatakan “al a-immah liquraisy”, kepemimpinan itu bagi orang keturunan Quraisy. Ucapan itu dikeluarkan saat terjadi ketegangan antara kaum Anshar dan Muhajirin yang memperebutkan kekhalifahan sesaat setelah Rasulullah saw. wafat. Reputasi orang Madinah (kaum Anshar) yang demikian jauh di bawah reputasi orang Mekah (kaum Muhajirin) dalam menjelajah daerah Arab, baik dalam ranah kedaerahan, etnis, budaya, perdagangan, dan keagamaan menyiratkan bahwa sebaiknya pemimpin itu diangkat dari mereka yang sudah sangat mengenal tradisi, budaya, atau adat-istiadat para penduduknya.

Ibn Abbas sempat menegur Ali bin Abi Thalib tatkala yang terakhir ini mengikuti pemilihan khalifah. Kalau zaman sekarang, kira-kira pikiran Ibn Abbas itu “lebih baik tidak memilih (baca: golput) daripada ikut pemilihan khalifah yang dimenangkan Utsman bin Affan. Sahabat Ali bin Abi Thalib merespons teguran tersebut dengan ungkapan ’Kaana amran `adhiiman min umuuril Islam lam araa linafsiy alkhuruuja minhu’, (memilih pemimpin itu adalah urusan sangat besar dari urusan-urusan Islam, tidak ada alasan bagi saya untuk keluar –tidak memilih– dalam hal ini)”.***

Penulis, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati.

 

 

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 13 Juni 2009

One thought on “Kewajiban Memilih Pemimpin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s