Sepenggal Cerita di Teropong Timur

Gedung HMCH di Teropong Timur
Dik2002222222Waktu itu, sore hari, 18 Agustus 2001, selepas menyelesaikan registrasi – hari terakhir – sebagai mahasiswa baru di BAAK UPI, saya mendapati dua pengumuman, pertama bahwa setiap mahasiswa FPIPS wajib registrasi di Sekretariat BEM FPIPS dan kedua “setiap mahasiswa Jurusan PKn wajib registrasi ke himpunan”. Masing-masing dilengkapi dengan petunjuk arah yang sengaja menggiring setiap mahasiswa untuk sampai ke masing-masing gedung yang menjadi sekretariat kedua lembaga kemahasiswaan tersebut. Saya mencoba mengikuti alur registrasi yang disampaikan dalam pengumuman-pengumuman itu, beberapa mahasiswa “senior” menjadi tempat untuk saya bertanya kedua tempat registrasi itu.

Singkat cerita, setelah mengikuti alur registrasi dan kebaikan seorang “senior” yang saya tanya di sekitar selasar ruang kuliah Jurusan Pendidikan Ekonomi – waktu itu dekat gedung Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah dan Kantin IPS – saya berniat untuk registrasi di himpunan mahasiswa Jurusan PKn. Senior itu jelas-jelas menunjuk ke arah di mana di tempat itu ada sebuah gedung sekretariat kemahasiswaan yang saat itu masih ramai oleh beberapa “senior” yang sedang mewawancarai mahasiswa baru. Di gedung itu tertulis Himpunan Mahasiswa Civics Hukum “Democratic, intelligence, and religious”. Atas dasar petunjuk seorang “senior” tadi, saya memberanikan diri berjalan mendekati gedung itu, Nampak ada seorang senior yang keluar dari ruangan dan bertanya “hey, kamu rek kamana?”. Sambil menunjukkan dan menyerahkan format isian mahasiswa baru dari BEM FPIPS saya jawab “saya mau registrasi ke himpunan”,  “Geus ka fakultas can?” Tanyanya lagi, “Fakultas?” pikir saya waktu itu. Belum sempat saya jawab “geus maneh ka fakultas heula ke kadieu deui” sambil terus masuk ke ruangan sekretariat yang di atasnya tertulis jelas Himpunan Mahasiswa Civics Hukum.

Dik2038Dari gedung itu, selanjutnya saya berjalan melewati lapangan Gedung Garnadi – sekarang jadi tempat parkir motor – dan saya baca  “Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial”. Dalam hati saya “apa ini yang dimaksud fakultas oleh “senior” itu?, tapi da teu aya aktivitas mahasiswa”. Saya coba jalan lagi dan ternyata menemukan petunjuk arah BEM HMCH, saya ikuti dan sampai di gedung Sekretariat BEM FPIS, di belakang Asrama Putra II, depan Gedung P3MP. Setelah selesai proses registrasi di BEM FPIPS, selanjutnya saya kembali ke gedung tadi – ingat ucapan senior di gedung itu “ke mun geus ti fakultas ka dieu deui”.

Sesampainya di himpunan itu, saya ditanya “Mau ke mana?”, “Mau apa?” Saya bilang saya mau registrasi ke himpunan Jurusan PKn, mereka bilang, ini Himpunan Mahasiswa Civics Hukum, bukan Himpunan Mahasiswa Jurusan PKn, kalau mau ke Jurusan PKn tuh ke atas – sambil menunjuk ke Gedung Garnadi – tapi saya sampaikan bahwa tadi di bawah saya harus registrasi ke himpunan, terus seorang senior yang baik hati mengarahkan saya ke gedung ini, di sini tadi ada senior yang sudah menyuruh saya untuk ke fakultas dan selepasnya nanti kembali lagi ke gedung ini –.

Singkat cerita saya diperbolehkan masuk ruangan – tentu sebelumnya ada proses yang harus dilewati? – Di dalam ruangan itu, akhirnya saya tahu bahwa himpunan mahasiswa untuk Jurusan PKn adalah HMCH. Di dalam ruangan itu, saya diwawancarai oleh para panitia penerimaan mahasiswa baru, waktu itu (yang saya ingat) ada Haris Nugraha (haris jabrig), Mas Firman (sering panggil angkatan saya dengan doa rebo sato), Teh Nia (kini alm), Teh Dedeh, Teh Mia (angkatan 1999). Saya diwawancara sampai menjelang maghrib. Setelah itu, saya dibekali beberapa tugas, yang harus dikumpulkan hari Senin tanggal 20 Agustus 2001. Awalnya saya tenang-tenang saja, baru sadar di rumah kalau hari Senin yang dimaksud hanya terselang satu hari saja, padahal tugas yang diberikan cukup merepotkan juga.
 
Sabtu itu, merupakan kali pertama saya ke himpunan. Kali kedua adalah pada saat mahasiswa jurusan PKn dikumpulkan oleh pengurus himpunan pada hari Senin, 20 Agustus 2001 itu untuk kemudian siang harinya kami bergabung dengan seluruh mahasiswa yang berada di Fakultas PIPS.

Setelah proses registrasi selesai, dan perkuliahan sudah dimulai, aktivitas ke himpunan rasanya jarang saya lakukan, lebih banyak saya kumpul dengan teman-teman, main bareng ke kost-an, atau kalaupun ke himpunan hanya untuk memenuhi format perkenalan dengan senior yang membutuhkan identitas dan tanda tangan mereka yang kebetulan berada di himpunan.

Dua tahun di Teropong Timur
Seiring perjalanan waktu, perkenalan saya dengan himpunan semakin dekat terlebih mulai akhir semester kedua. Menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Sdr. Dian Sudiono sebagai Presiden, HMCH menggelar Mumas HMCH yang diantara tugasnya adalah meminta pertanggungjawaban Presiden dan memilih Presiden baru HMCH. Mumas itu kemudian menetapkan empat orang calon Presiden BEM HMCH, masing-masing adalah Cep Hari Hardiansyah, Zendri Waluya, Yusef Kurnia Fariddudin (masing-masing dari angkatan 2000), dan Usep Saefurrohman (angkatan 2001).

Dalam pemilihan presiden yang diselenggarakan secara langsung itu, Usep Saefurrohman memperoleh suara terbanyak dan terpilih menjadi Presiden Baru BEM HMCH. Kemenangan Usep yang angkatan 2001 itu, (mungkin) kali pertama tingkat dua menduduki jabatan presiden, sebelumnya (bahkan seterusnya – yang saya tahu) yang menjadi pucuk pimpinan di himpunan selalu mahasiswa tingkat tiga.

Kepengurusan HMCH waktu itu hanya dipegang oleh satu angkatan (2001), kakak kelas kami (2000) bergabung di DPM menjalankan fungsi legislasi. Saya diminta Usep untuk duduk sebagai Sekretaris Umum. Pengurus yang baru disusun sudah harus mempersiapkan proses penerimaan mahasiswa baru. Pengurus yang aktif ke himpunan untuk mempersiapkan penerimaan mahasiswa baru itu adalah Presiden dan saya sendiri sebagai sekretaris umum, sementara yang lainnya memilih untuk berlibur dulu di daerah masing-masing – angkatan 2001 tidak seperti angkatan 2000 yang mengikuti perkuliahan Semester Padat (waktu itu kali pertama SP di jurusan PKn).

Karena aktifitas Usep yang cukup padat sebagai tenaga pengajar pada lembaga pendidikan At-Taqwa di KPAD, saya yang waktu itu tinggal di Masjid Al Barkah di Gerlong Hilir, hampir setiap hari pulang pergi antara himpunan dan masjid (saya juga harus ngajar di TK dan TPA Al Barkah, sekaligus ngurus masjid). Selama tiga bulan aktivitas saya seperti itu, bolak balik himpunan dan masjid. Tapi, pada saat mempersiapkan kegiatan LDKM untuk mahasiswa angkatan 2002, saya tidak lagi dapat membagi waktu antara masjid dan himpunan, saya lebih banyak berkonsentrasi di himpunan. Sejak itu, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan menjadi pengajar di TK dan TPA Al Barkah karena waktunya sering tersita untuk urusan himpunan.

Himpunan adalah tempat untuk para pengurus berkumpul, mengadakan rapat, berdiskusi, termasuk tempat main juga. Tetapi bagi saya himpunan bukan sekedar sebagai sekretariat, melainkan tempat tinggal saya sejak tidak menjadi pengajar di Al Barkah. Selama tinggal di himpunan itu, pagi-pagi saya harus sudah bangun, ambil air wudhu untuk shalat subuh, atau bahkan langsung mandi. Awalnya, air tersedia melimpah di kamar mandi Lantai Dasar Gedung Garnadi atau di sekretariat Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang, yang gedungnya bersebelahan dengan Gedung Garnadi. Setelah beberapa waktu, air tidak tersedia lagi di tempat itu – saya tidak tahu karena apa – hanya yang jelas kalau siang hari, air itu akan tersedia lagi dan kemudian tidak ngocor lagi menjelang maghrib sampai pagi hari. Karena kondisinya seperti itu, untuk keperluan wudhu untuk shalat subuh, saya ambil dari bak penampungan air di Gedung Garnadi (di belakang Gedung) saya mengambil satu ember hanya untuk keperluan wudhu, sedangkan untuk mandi saya pergi ke Masjid Al-Furqon. Air untuk wudhu dari bak penampungan pun kemudian tidak tersedia lagi, karena penutup bak penampungan itu digembok paten, karenanya setiap pagi itu saya menuju gedung P3MP, di belakang Asrama Mahasiswa II, atau ke kamar mandi di Gedung FPIPS bawah – untuk bisa ambil air di kamar mandi itu harus bawa lilin, karena kamar mandinya sudah lama tak dialiri cahaya listrik – Di tempat itu juga tidak berlangsung lama, karena kondisi kamar mandi yang semakin hari kian memprihatinkan, tak terurus. Sering saya numpang wudhu atau mandi di kamar mandi Aspa I dan Aspa II. Terakhir saya mengambil wudhu sekaligus mandi di masjid Al Furqon – ini tempat yang paling nyaman. Selepas mandi dan shalat shubuh (biasanya) aktifitas selanjutnya adalah beres-beres himpunan, sehingga pada saat mahasiswa datang untuk kuliah, himpunan sudah bersih dan enak dipandang.

Siang hari di himpunan biasanya diisi oleh aktifitas himpunan, atau aktifitas mahasiswa menunggu kuliah, atau hanya untuk sekedar diskusi dan ngobrol-ngobrol. Sore hari, ketika mahasiswa pada pulang ke kost-annya/rumahnya masing-masing, kalau tidak sedang ada kegiatan biasanya himpunan kosong, yang tinggal hanya saya dan beberapa mahasiswa yang sama-sama menjadi penghuni masing-masing himpunannya, terutama tetangga dekat yang tinggal di Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi (HMJP). Malam hari biasanya saya manfaatkan untuk menyelesaikan beberapa tugas – di himpunan ada komputer himpunan, jadi bisa dimanfaatkan -. Pada awal-awal saya tinggal di himpunan, yang menginap di himpunan tidak hanya saya, tetapi ada pula kang Rouf (‘98), Cecep Risdianto (‘99), Haris (2000), Agus Babad (2000), Goleks (2000), Devi (2001), Usep Tiroy (2001), dan lainnya. Biasanya kalau sedang ngumpul bareng, kami akan ngaliwet dan makan bareng. Kang Rouf yang ’98 itu pinter ngaliwet dan selalu jadi yang pertama untuk patungan beli lauk pauknya (sarebu pertama tah!). Tapi, satu tahun terakhir, yang tinggal hanya saya ditemani Haris dan Agus Babad – mereka berdua datang ke himpunan sekitar jam 9 atau jam 10 malam, nonton, tidur, dan kemudian pulang lagi ke kost-an mereka pagi hari.

Aktifitas itu berlangsung selama hampir dua tahun, terlebih karena pada tahun kedua (Mei 2003) saya terpilih sebagai Presiden BEM HMCH untuk periode 2003/2004, dan satu hal yang terpenting, karena saya tidak memiliki kost-an, hehe….

Dik2006Pada saat tulisan ini dibuat, sekretariat HMCH yang beralamat di Gedung Teropong Timur Kampus UPI sedang dalam proses pembongkaran demi penataan kampus UPI yang semakin nyaman dan elok dipandang. Terlepas dari semua itu, himpunan dan semua cerita yang melingkupinya menyimpan kenangan yang menarik bagi saya. Himpunan bukan saja sekretariat lembaga kemahasiswaan tingkat jurusan, tetapi rumah kedua saya selama kuliah.

Terimakasih HMCH ku, terimakasih gedung teropong timur ku.

2 thoughts on “Sepenggal Cerita di Teropong Timur

  1. assalammualaikum pak dikdik,
    sekedar bertanya,,

    dalam kalimat ini :

    “Di dalam ruangan itu, saya diwawancarai oleh para panitia penerimaan mahasiswa baru, waktu itu (yang saya ingat) ada Haris Nugraha (haris jabrig), Mas Firman (sering panggil angkatan saya dengan doa rebo sato), Teh Nia (kini alm), Teh Dedeh, Teh Mia (angkatan 1999).”

    nah disitu tertulis teh Nia (kini alm),,apakah yang orang yang dimaksud adalah Nia Kurnia, mahasiswa HMCH angkatan 2000 yang berasal dari Cisaga (perbatasan Banjar-ciamis?)?

    seandainya benar,,kapan beliau meninggal? dan kenapa?,,ya Allah,,saya tidak tahu beliau sudah meninggal,,

    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s