HIDUPLAH SEPERTI APA YANG KITA JALANI

DALAM perjalanan pulang selepas memberikan kuliah di salah satu sekolah tinggi di kota Subang, saya buka-buka laman web salah satu universitas bermaksud mencari informasi tentang pengumuman kelulusan CPNS dosen yang sebelumnya saya ikuti. Ternyata benar, pengumuman resmi sudah muncul di laman web universitas tersebut. Saya buka dan saya ikuti tahap demi tahap pengumuman itu. Namun saya dapati kenyataan nama saya tidak termasuk satu diantara beberapa peserta yang dinyatakan lolos pada tahap pertama.

Beberapa kali saya ulang proses pencarian informasi itu, dengan harapan ada informasi yang berbeda, dimana saya termasuk dalam kelompok mereka yang lolos pada tahap pertama. Tetapi, berkali-kali saya buka, berkali-kali pula saya tidak menemukan nama saya tertera dalam pengumuman itu. Sampai akhirnya saya berkesimpulan “benar” saya tidak lolos. Tapi mengapa?

Pertanyaan itu memaksa saya untuk memutar kembali memori saya ketika mengikuti seleksi. Ada tiga pertanyaan yang melintas dalam pikiran saya, 1) apakah ketidaklolosan saya pada tahap pertama itu karena kecerobohan saya dalam mengisi lembar jawaban komputer, keliru menuliskan nama, tanggal lahir, jenis kelamin, kode tempat seleksi, kode kualifikasi akademik, dan tanda tangan?; 2) apakah karena ketidakmampuan saya mengisi soal-soal tes TPU dan TBS sehingga tidak memenuhi passing grade yang dibutuhkan untuk menjadi seorang dosen?; atau 3) apakah saya memang tak seharusnya lolos?

Ketiga pertanyaan itu memaksa saya untuk berfikir, merenung mencari jawabannya. Untuk pertanyaan pertama, saya rasa kecil kemungkinan itu terjadi, karena sebelum waktu pelaksanaan tes dimulai, 10-15 menit sebelumnya lembar jawaban komputer sudah dibagikan pengawas untuk diisi, sehingga saya punya waktu yang cukup leluasa untuk mengisi, memeriksa dan mengoreksi beberapa kekeliruan, bahkan itu dilakukan berulang-ulang. Kedua, ketidakmampuan saya menjawab soal-soal tes. Terus terang dibanding pelaksanaan tes tahun lalu – tahun lalu saya juga mengikuti tes yang sama, lolos tahap pertama tetapi tidak sempat mengikuti tes tahap kedua karena sakit –,  persiapan untuk tes tahun ini saya rasakan lebih intens dan maksimal. Saya bersama istri – yang kebetulan mengikuti tes yang sama di univeritas yang lain – belajar mengerjakan soal-soal contoh tes CPNS, bahkan untuk bisa menjawab soal-soal bahasa Inggris saya dan istri juga ikut kursus bahasa Inggris. Artinya, dengan berbagai persiapan itu, mungkin saya akan bisa menyelesaikan soal-soal tes dengan baik. Tapi saya menyadari, boleh jadi untuk kasus pertama saya melakukan kecerobohan sehingga ada kesalahan dalam mengisi lembar jawaban, atau untuk kasus yang kedua, boleh jadi nilai peserta yang lain jauh lebih tinggi daripada nilai yang saya peroleh sehingga saya tidak mencapai passing grade nilai yang dibutuhkan untuk lolos pada tahap berikutnya.

Terakhir, saya tidak seharusnya lolos, artinya ada ketentuan Allah yang menetapkan saya untuk tidak lolos. Allah Yang Maha Tahu. Tentu bukan kapasitas saya untuk mempertanyakannya. Insya Allah, ada beragam kebaikan yang Allah janjikan di balik ketidaklolosan ini, sebab sejatinya hidup bukanlah apa yang kita ingini, tapi hidup adalah apa yang kita jalani. Lanjutkanlah cerita hidup ini, yakinlah Allah Maha Luas Rejeki-Nya. Wallahu ‘alamu bisshawab.

One thought on “HIDUPLAH SEPERTI APA YANG KITA JALANI

  1. yaaach… bgtlah hidup….
    yang penting ikhlas….. dan yakin Allah pasti memberikan yang lebih baek untuk kita….. itu… saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s