GOSSIP: MENJADI BIASA, PUDARNYA SEKAT BENAR DAN SALAH

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan aibnya sehingga ia tidak memperhatikan aib orang lain.” Riwayat Al-Bazzar dengan sanad hasan.

Dewasa ini hampir tidak pernah kita lepas dari suguhan informasi tentang para pesohor negeri ini yang dikemas lewat infotainment (baca: gossip). Setiap hari, pagi, siang, sore, bahkan malam hari beragam acara televisi memanjakan mereka yang haus informasi para selebriti negeri ini. Mulai informasi kedekatan dua pasangan selebiriti, jalinan asmara, perkawinan, permasalahan rumah tangga, sampai perceraian disajikan dengan beragam cara untuk menarik publik. Bahkan tidak ketinggalan, informasi kelahiran, kematian juga menjadi tayangan yang tidak terlewatkan. Pokoknya, segala hal yang berkaitan dengan selebriti, baik atau buruk tersaji lewat infotainment itu. Masing-masing stasiun televisi mengemas infotainment semenarik mungkin tujuannya tiada lain adalah untuk meningkatkan rating acara mereka. Bahkan tidak jarang, gaya bicara yang melecehkan, dan tanggapan sinis disampaikan presenter infotainment demi mengundang rasa kepenasaran dan keingintahuan masyarakat.

Infotainment tidak cukup hanya disajikan lewat media televisi, beragam media cetak juga menjejali masyarakat dengan beragam infotainment yang tidak kalah derasnya dengan media televisi. Bahkan muncul media cetak khusus yang membahas tentang berita para pesohor negeri ini, bahkan diselipi berita selebriti dunia. Mereka berdalih, tujuannya memberikan informasi bagi masyarakat.

Derasnya infotainment yang disuguhkan kepada masyarakat telah menyebabkan segala sesuatu menjadi hal yang biasa di mata masyarakat. Pudarlah sekat wilayah privat yang menjaid hak pribadi setiap individu dan wilayah publik yang menjadi hak masyarakat umum, dan lepaslah kriteria benar (haq) dan salah (bathil). Untuk menyebut contoh, hamil di luar nikah, perzinahan, intim di depan publik, dan tindakan asusila lainnya ditanggapi oleh masyarakat sebagai hal biasa, tidak perlu dirisaukan, dan tak ada kaitannya dengan kriteria benar atau salah. Bagi para pelaku, tersebarnya aib tidak menyebabkan mereka merasa malu, malah sebaliknya, dengan bangganya mereka memperkenalkan anak hasil hubungan di luar nikah, memperkenalkan pasangan di luar nikah, bahkan mempertontonkan keintiman mereka di depan khalayak.

Jika perbuatan menceritakan atau menyiarkan aib seseorang dianggap sebagai hal yang biasa, masyarakat menanggapi berbagai informasi itu dengan sikap yang biasa-biasa pula, serta tidak ada rasa malu pada diri mereka yang berbuat, maka disadari atau tidak, kita tengah menanam benih kehancuran dalam masyarakat kita. Apabila terus dibiarkan, maka bukan mustahil kita akan menyaksikan masyarakat kita yang hancur karena tidak memiliki akhlak, watak, atau karakter baik sebagaimana diperlukan dalam membangun masyarakat.

Perbuatan menceritakan aib orang lain (dikenal dengan istilah ghibah) jelas-jelas terlarang dan perbuatan dosa. Ghibah berdosa karena menunjukkan adanya kezaliman terhadap orang lain dengan menyakiti hati orang yang digunjingkan. Bagaimana sesuatu bisa dianggap ghibah? Dalam salah satu keterangan hadits, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah.” Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Yaitu engkau menceritakan saudaramu apa yang tidak ia suka.” Ada yang bertanya: Bagaimana jika apa yang aku katakan benar-benar ada pada saudaraku?. Beliau menjawab: “Jika padanya memang ada apa yang engkau katakan maka engkau telah mengumpatnya dan jika tidak ada maka engkau telah membuat kebohongan atasnya.” (Riwayat Muslim). Perumpamaan mereka yang melakukan ghibah dilukiskan Allah SWT dalam keterangan Al Qur’an, bahwasanya ghibah pada saudara seiman sama artinya dengan memakan bangkai saudara sendiri. Tentu saja perilaku memakan bangkai saudara adalah perbuatan menjijikan dan tidak normal.

Meski begitu, ada kesepakatan ulama yang memperbolehkan kita membicarakan orang lain. Kesepakatan itu adalah: 1) Membicarakan orang yang akan berbuat zalim (kepada kita) kepada orang yang dianggap mampu menangani masalah tersebut; 2)Membicarakan orang yang berbuat munkar kepada orang yang kita mintai bantuan untuk mengubah kemunkaran tersebut; 3) Membicarakan orang untuk dimintakan fatwa (mengenai orang tersebut); 4) Membicarakan orang untuk dijadikan cermin dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu menyebutkan nama orang yang bersangkutan (jika memang tidak diperlukan); 5) Mengumumkan atau menerangkan kefasikan seperti pemakai narkoba yang oleh pecandunya hal tersebut begitu dibangga-banggakan; dan 6) Mengetahui identitas orang yang diperlukan karena tidak cukup hanya dengan mengenal namanya saja.

Keenam hal di atas boleh dilakukan, sepanjang maksudnya sesuai. Tetapi, harus diingat bahwa siapa saja yang dapat menutup kekurangan saudaranya, maka sejatinya bukan saja ia menutup kekurangan saudaranya, tetapi ia telah menutup kekurangannya sendiri di dunia dan kelak di akhirat. Dalam salah satu keterangan hadits, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (Riwayat Muslim).

Sudah saatnya, tayangan-tayangan yang melulu menceritakan kekurangan seseorang itu dihentikan. Masyarakat memang butuh informasi, tetapi hendaknya informasi itu disampaikan secara proporsional dengan mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat. “Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan kekurangannya (aibnya) sehingga ia tidak memperhatikan kekurangan (aib) orang lain. Wallahu’alam bisshawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s