Ibu Azis: In Memoriam

Pagi hari, ketika membuka jejaring sosial, sahabat saya menulis statusnya:

Innalillahi wa innaailaihi roziun. Telah berpulang ke rahmatulloh, ibu dra. Sri Wurian Azis, pada hari Jumat 26 april 2013 sekitar pukul 22 wib di rs adven bdg. Mohon doa restunya semoga almarhumah diterima disisi Alloh swt. Aamiin.”

Seketika terucap Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, sesungguhnya semua dari Allah dan kembali kepada Allah, seraya memanjatkan do’a Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Teringat kembali beberapa di akhir Maret 2013 yang lalu, di sela-sela acara seminar internasional PKn yang diselenggarakan Jurusan PKn di Bandung, saya bertemu beliau, dan sambil bersalaman, saya tanya beliau “Bu, masih ingat saya?”. Dengan gaya dan cara bicaranya yang khas, Bu Azis, begitu saya biasa memanggil beliau, menjawab “Ya, iyalah….kamu yang waktu itu sakit, kan?” Beliau coba mengingat-ingat memorinya tentang saya. “Iya, Bu” Jawab saya. “Di mana sekarang, katanya di Jogja, ya?” tanyanya lagi. “Iya, Bu di Universitas Ahmad Dahlan”. “Oh ya syukurlah…Saya itu di Kauman, indekos di sana waktu SMP dan SMA, sekolah saya kan di Muhammadiyah” cerita beliau. “Saya ke Bandung itu karena kuliah di Bandung” tambahnya lagi. “Begitu ya bu, mohon do’anya ya bu” pinta saya kemudian. “Iya lah pasti saya do’akan, dimana saja, murid saya harus maju”.

Bagi saya dan mungkin Komunitas PKn 2001 (Prof. Idrus Affandi menyebutnya angkatan Abu Nawas), atau kita sebagai murid beliau tahu betul gaya beliau ketika menyampaikan materi Ilmu Kewarganegaraan, berulang-ulang disebutkan “to be good citizenship”. Saya sendiri menerima materi itu pada minggu-minggu awal sebagai mahasiswa baru, sekitar September 2001. Waktu itu dengan didampingi Pak Syaifullah (kini Ketua Jurusan PKn UPI) beliau semangat sekali menyampaikan materi tentang perkembangan historis IKn di Amerika Serikat, termasuk mengomentari Peristiwa 11 September 2001, “Apa itu, jihad-jihad, Osama bin Laden, urus dulu Indonesia!” begitu kira-kira tanggapan yang beliau lontarkan.

Bu Azis, pernah mendampingi kami, Komunitas Abu Nawas kuliah lapangan ke Kasunanan Surakarta dan wisata di Yogyakarta. Waktu itu, beliau bersama Bu Dartim, Pak Syaifullah dan Pak Prayoga. Beliau semangat sekali menemani kami di Kraton Surakarta, termasuk jalan-jalan di Malioboro Yogyakarta.

Bagi saya, hal yang tak pernah lupa adalah komentar dan kritik beliau ketika tiba waktunya saya tampil berperan sebagai guru dalam kuliah Teori dan Latihan Keterampilan Belajar Mengajar (TLKBM). Kalau tidak salah, waktu itu beliau dengan Bu Lili dan Bu Kokom Komalasari. Selesai saya berperan sebagai guru, Bu Azis berkomentar “Anda itu jadi guru atau provokator? Jangan provokasi siswa! Masa di kegiatan penutup, guru bilang terimakasih atas perhatian murid? Ini juga Silabus dan RPP apa?, ngawur?” Komentar sekaligus kritikan itu tak pernah saya lupakan sampai hari ini.

Saya kira, kita setuju, Bu Azis orang baik. Selamat jalan Bu Azis, semoga khusnul khatimah. Semoga Pak Azis dan keluarga yang ditinggalkan ikhlas dengan takdir Allah ini. Sesungguhnya kematian itu pasti adanya, hanya masalah waktu saja.

Yogyakarta, 27 April 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s