Membaca Akhlak Infotainment

Dikdik Baehaqi Arif*

‘Awalnya malu-malu lama-lama mau’, demikian bunyi iklan yang pernah terpajang lebar di sudut-sudut kota dan sempat menghentak nurani kita. Sekalipun beberapa pemimpin daerah merespon untuk menurunkan tayangan iklan itu, tetapi kita tetap bertanya, apa yang diinginkan produsen rokok itu?

Kita menyaksikan media televisi, media cetak, online, dan lainnya getol menyuguhkan informasi tentang para pesohor negeri lewat program infotainment (baca: gossip). Tiada hari tanpa gosip. Mulai informasi kedekatan dua pasangan selebiriti, jalinan asmara, perkawinan, permasalahan rumah tangga, sampai perceraian disajikan dengan beragam cara untuk menarik publik. Termasuk juga informasi kelahiran, kematian juga menjadi tayangan yang tidak terlewatkan. Pokoknya, segala hal yang berkaitan dengan selebriti, baik atau buruk tersaji lewat infotainment itu. Lagi-lagi kita bertanya, apa yang diingingkan program infotainment itu?

Iklan yang bernada pornografi, dan derasnya infotainment yang disuguhkan telah menyebabkan ‘segala sesuatu’ menjadi hal yang boleh dan biasa di mata masyarakat. Pudarlah sekat wilayah privat – yang menjadi hak pribadi setiap individu – dan wilayah publik yang menjadi hak masyarakat umum. Lepaslah kriteria benar (haq) dan salah (bathil). Untuk menyebut contoh, intim dua pasangan berbeda jenis kelamin di depan publik – seperti tergambar dalam iklan rokok – hamil di luar nikah, perzinahan, dan tindakan asusila lainnya ditanggapi masyarakat sebagai hal biasa, tidak perlu dirisaukan, dan tak ada kaitannya dengan kriteria benar atau salah. Bagi para pelaku, tersebarnya aib tidak menyebabkan mereka merasa malu, malah sebaliknya, mereka dengan bangga memperkenalkan anak hasil hubungan di luar nikah, memperkenalkan pasangan di luar nikah, bahkan mempertontonkan keintiman mereka di depan publik.

Jika mengiklankan pornografi dan menyiarkan aib seseorang terus dilakukan dan tidak ada lagi pertimbangan moral mayarakat untuk menerima atau menolaknya, maka disadari atau tidak, kita tengah menanam benih kehancuran dalam masyarakat kita. Apabila terus dibiarkan, bukan mustahil kita akan menyaksikan masyarakat kita hancur karena tidak memiliki akhlak, watak, atau karakter baik untuk membangun diri dan masyarakat.

Menunjukkan perbuatan pornografi di ruang publik jelas merupakan kesalahan. Demikian juga perbuatan menceritakan aib orang lain – dikenal dengan ghibah – jelas-jelas terlarang dan perbuatan dosa. Ghibah berdosa karena menunjukkan adanya kezaliman terhadap orang lain dengan menyakiti hati orang yang digunjingkan.

Bagaimana sesuatu bisa dianggap ghibah? Dalam salah satu keterangan hadits, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah.” Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Yaitu engkau menceritakan saudaramu apa yang tidak ia suka.” Ada yang bertanya: Bagaimana jika apa yang aku katakan benar-benar ada pada saudaraku?. Beliau menjawab: “Jika padanya memang ada apa yang engkau katakan maka engkau telah mengumpatnya dan jika tidak ada maka engkau telah membuat kebohongan atasnya.” (Riwayat Muslim). Perumpamaan mereka yang melakukan ghibah dilukiskan Allah SWT dalam keterangan Al Qur’an, bahwasanya ghibah pada saudara seiman sama artinya dengan memakan bangkai saudara sendiri. Tentu saja perilaku memakan bangkai saudara adalah perbuatan menjijikan dan tidak normal.

Meski begitu, ada kesepakatan ulama yang memperbolehkan kita membicarakan orang lain. Kesepakatan itu adalah: 1) Membicarakan orang yang akan berbuat zalim (kepada kita) kepada orang yang dianggap mampu menangani masalah tersebut; 2) Membicarakan orang yang berbuat munkar kepada orang yang kita mintai bantuan untuk mengubah kemunkaran tersebut; 3) Membicarakan orang untuk dimintakan fatwa (mengenai orang tersebut); 4) Membicarakan orang untuk dijadikan cermin dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu menyebutkan nama orang yang bersangkutan (jika memang tidak diperlukan); 5) Mengumumkan atau menerangkan kefasikan seperti pemakai narkoba yang oleh pecandunya hal tersebut begitu dibangga-banggakan; dan 6) Mengetahui identitas orang yang diperlukan karena tidak cukup hanya dengan mengenal namanya saja.

Keenam hal di atas boleh dilakukan, sepanjang maksudnya sesuai. Tetapi, harus diingat bahwa siapa saja yang dapat menutup kekurangan saudaranya, maka sejatinya tidak hanya menutup kekurangan saudaranya, tetapi ia telah menutup kekurangannya sendiri di dunia dan kelak di akhirat. Dalam salah satu keterangan hadits, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (Riwayat Muslim).

Sudah saatnya, tayangan-tayangan yang bernada pornografi dan melulu menceritakan kekurangan seseorang dihentikan. Masyarakat memang butuh informasi, tetapi hendaknya informasi itu disampaikan secara proporsional dan mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat dan makin memeperkuat akhlak kewargaan (civic virtue) yang baik. “Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan kekurangannya (aibnya) sehingga ia tidak memperhatikan kekurangan (aib) orang lain.

*Penulis adalah Dosen Universitas Ahmad Dahlan, dan Penggagas Lingkar Studi Kewargangaraan PPKn UAD

Dimuat dalam ‘Rubrik Lentera’ Koran Sindo Yogya, Senin 27 April 2015, hlm 8

Iklan

Optimalisasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan untuk Pembinaan Karakter Warga Negara Muda

ABSTRAK Pembinaan karakter pada warga negara muda penting dilakukan. Sebab manusia yang berkarater baiklah yang mampu membangun kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dewasa ini terdapat kecenderungan semakin tergerusnya karakter baik pada diri warga negara, seperti semakin meningkatnya fenomena penganiayaan, kekerasan, kejahatan, pelanggaran, dan perilaku korupsi. Tentu kita tidak ingin bangsa ini dihuni oleh warga negara yang tidak memiliki karakter baik, termasuk dalam diri warga negara muda sebagai pelangsung pembangunan bangsa. Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) sebagai organisasi otonom Muhammadiyah dipandang memiliki kontribusi besar dalam membina warga negara muda menjadi insan berkarakter baik. HW yang memiliki sejarah dan kontribusi besar dalam pembangunan bangsa sejak kelahirannya adalah sistem pendidikan di luar keluarga dan sekolah untuk anak, remaja, dan pemuda untuk membentuk mereka sebagai insan yang kuat dalam aqidah, fisik dan mental, berilmu dan berteknologi serta berakhlaqul karimah. Sehingga dengan bekal itu, pandu muda HW diharapkan dapat menjadi muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader persyarikatan, umat, dan bangsa. Karena itu optimalisasi peran gerakan kepanduan HW akan memperkaya khazanah kepanduan nasional sebab dengan tiga prinsip dasarnya, yaitu pengamalan aqidah Islamiah; pembentukan dan pembinaan akhlak mulia menurut ajaran Islam; dan pengamalan kode kehormatan pandu, akan lahir warga negara muda yang memiliki karakter baik berbasis nilai-nilai agama Islam.

KATA KUNCI: kepanduan, kepanduan nasional, karakter, karakter baik, islam Baca lebih lanjut

BEREFLEKSI, BERCERDAS, DAN BERKARAKTER[1]

Dikdik Baehaqi Arif[2]

If there is righteousness in the heart, there will be beauty in the character; if there is beauty in the character, there will be harmony in the home; if there is harmony in the home, there will be order in the nation; if there is order in the nation, there will be peace in the world”.

(Phillips dalam The Great Learning, 2000:11)

Pendahuluan

Pembangunan karakter (character building) semakin menemukan momentumnya belakangan ini, bahkan menjadi salah satu program prioritas Kementerian Pendidikan Nasional. Upaya ke arah pembangunan karakter tersebut dilandasi oleh kondisi karakter manusia umumnya dewasa ini, sejak dari level internasional sampai kepada tingkat personal individual, khususnya bangsa kita, kelihatan mengalami berbagai disorientasi dan kemerosotan. Karena itu, harapan dan seruan dari berbagai kalangan masyarakat kita dalam beberapa tahun terakhir untuk pembangunan kembali watak atau karakter melalui pendidikan karakter menjadi semakin meningkat dan nyaring. Karena itu, kebijakan Mendiknas mengutamakan pendidikan karakter dapat menjadi momentum penting dalam konteks ini di tanah air kita[3].

Sekarang ini dari hari ke hari kita menyaksikan semakin meningkatnya penyimpangan moral dan akhlak pada berbagai kalangan masyarakat, termasuk di dalamnya mahasiswa. Serbuan globalisasi nilai-nilai dan gaya hidup yang tidak selalu kompatibel dengan nilai-nilai dan norma-norma agama, sosial-budaya nasional dan lokal Indonesia telah menggiring mereka memiliki gaya hidup hedonistik, materialistik sebagaimana banyak ditayangkan dalam telenovela dan sinetron pada berbagai saluran TV Indonesia. Ada kecenderungan, mahasiswa tidak kuat melawan arus “gaya” yang menempel bersama modernisasi ini. Akibatnya, tidak heran kita menyaksikan banyak mahasiswa yang terlibat dalam tawuran, kekerasan senior atas yunior, penggunaan obat-obat terlarang, tindakan asusila, dan bentuk-bentuk tindakan kriminal lainnya. Celakanya, berbagai bentuk pelanggaran itu dengan segera dan instan menyebar melalui media komunikasi instan pula seperti internet, HP, dan semacamnya.

Dalam konteks pembangunan karakter, mahasiswa adalah kelompok terdidik yang potensial untuk melakukan perubahan tertentu di dalam masyarakat. Namun, tren hedonistik dan materialistik yang menjangkiti mereka melemahkan kesadaran bahwa mereka adalah motor yang bisa menggenerasi perubahan di tengah-tengah masyarakat. Mahasiswa gagal mengartikulasikan spirit perubahan dalam diri mereka sendiri. Kalau saja mahasiswa memiliki kesadaran bahwa mereka adalah kelas menengah terdidik, agen perubahan sosial, dan generator bagi mobilitas vertikal masyarakat, maka kaum muda akan bisa “berbuat sesuatu” untuk komunitas dan lingkungannya. Harus diakui bahwa apatisme masyarakat selama ini terhadap mahasiswa disebabkan oleh perilaku negatif mereka yang tidak menunjukkan mereka sebagai kelas menengah terdidik.

Apa Karakter itu?

Karakter berasal dari kata Yunani charaktêr yang mengacu kepada suatu tanda yang terpatri pada sisi sebuah koin. Karakter menurut Kalidjernih[4] lazim dipahami sebagai kualitas-kualitas moral yang awet yang terdapat atau tidak terdapat pada setiap individu yang terekspresikan melalui pola-pola perilaku atau tindakan yang dapat dievaluasi dalam berbagai situasi. Dalam Kamus Poerwadarminta,  karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain. Disebut watak jika telah berlangsung dan melekat pada diri seseorang.[5]

Secara psikologis dan socio-cultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi social kultural (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan socio-cultural tersebut dapat dikelompokkan dalam olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development), dan olah rasa dan karsa (affective and creativity development)[6].

Olah hati berkenaan dengan perasaan sikap dan keyakinan/keimanan menghasilkan karakter jujur dan bertanggung jawab. Olah pikir berkenaan dengan proses nalar guna mencari dan menggunakan pengetahuan secara kritis, kreatif, dan inovatif menghasilkan pribadi cerdas. Olah raga berkenaan dengan proses persepsi, kesiapan, peniruan, manipulasi, dan penciptaan aktivitas baru disertai sportivitas menghasilkan sikap bersih, sehat, dan menarik. Olah rasa dan karsa berkenaan dengan kemauan dan kreativitas yang tercermin dalam kepedulian, citra, dan penciptaan kebaruan menghasilkan kepedulian dan kreatifitas.[7]

Bagi suatu bangsa karakter adalah nilai-nilai keutamaan yang melekat pada setiap individu warga negara dan kemudian mengejawantah sebagai personalitas dan identitas kolektif bangsa. Karakter berfungsi sebagai kekuatan mental dan etik yang mendorong suatu bangsa merealisasikan cita-cita kebangsaannya dan menampilkan keunggulan-keunggulan komparatif, kompetitif, dan dinamis di antara bangsa-bangsa lain.[8] Manusia Indonesia yang berkarakter kuat adalah manusia yang memiliki sifat-sifat: religious, moderat, cerdas, dan mandiri.[9] 1) Religius; yang dicirikan oleh sikap hidup dan kepribadian taat beribadah, jujur, terpercaya, dermawan, saling tolong menolong, dan toleran; 2) Moderat; yang dicirikan oleh sikap hidup yang tidak radikal dan tercermin dalam kepribadian yang tengahan antara individu dan sosial, berorientasi materi dan ruhani, serta mampu hidup dan kerjasama dalam kemajemukan; 3) Cerdas; yang dicirikan oleh sikap hidup dan kepribadian yang rasional, cinta ilmu, terbuka, dan berpikiran maju; dan 4) Mandiri; yang dicirikan oleh sikap hidup dan kepribadian merdeka, disiplin tinggi, hemat, menghargai waktu,  ulet,  wirausaha, kerja keras, dan memiliki cinta kebangsaan yang tinggi tanpa kehilangan orientasi nilai-nilai kemanusiaan universal dan hubungan antarperadaban bangsa-bangsa.

Berkarakter: Berefleksi dan Bercerdas

Membangun karakter adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga berbentuk unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain[10]. Proses membangun karakter itu memerlukan disiplin tinggi karena tidak pernah mudah dan seketika atau instant. Diperlukan refleksi mendalam untuk membuat rentetan moral choice (keputusan moral) dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata sehingga menjadi praksis, refleksi, dan praktik. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang.

Terbentuknya karakter manusia ditentukan oleh dua faktor, yaitu nature (faktor alami atau fitrah) dan nurture (melalui sosialisasi dan pendidikan). Faktor lingkungan yaitu usaha memberikan pendidikan dan sosialisasi dapat menentukan ”hasil” seperti apa nanti yang dihasilkannya dari seorang anak. Jadi karakter seseorang dapat dibentuk dari pengasuhan, pendidikan, dan sosialisasi positif dari lingkungannya. Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Setiap individu tentunya memiliki karakter yang berbeda-beda. Perbedaan karakter individu tersebut disebababkan oleh banyak hal, seperti lingkungan, biologis individu, polah asuh, budaya, dan lain sebagainya. Nurture dan nature merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan.

Karakter terbentuk dengan dipengaruhi oleh paling sedikit 5 faktor, yaitu: temperamen dasar kita (dominan, intim, stabil, cermat), keyakinan (apa yang kita percayai, paradigma), pendidikan (apa yang kita ketahui, wawasan kita), motivasi hidup (apa yang kita rasakan, semangat hidup) dan perjalanan (apa yang telah kita alami, masa lalu kita, pola asuh dan lingkungan). Helen Keller (1904) mengungkapkan “Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”. Sehingga dengan karakter yang telah dibangun dengan kokoh, bisa menjadikan seorang individu tidak mudah dikuasai oleh seseorang ataupun kondisi tertentu.

Peran (gerakan) mahasiswa. Pembangunan karakter membentuk peradaban unggul jelas merupakan tanggung jawab semua pihak; keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan tentu saja juga berbagai organisasi kemasyarakatan, termasuk gerakan dan organisasi kemahasiwaan di kampus maupun di luar kampus. Meskipun organisasi kemahasiswaan bukanlah satu-satunya institusi dalam pembangunan karakter, tetapi menurut hemat saya (gerakan) mahasiswa sebagai kelas menengah yang terdidik memiliki keberpihakan yang jelas, intelektualitas yang mumpuni, dan sensitivitas yang tinggi untuk menyentuh persoalan-persoalan riil masyarakat.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh (gerakan) mahasiswa dalam rangka menumbuhkan karakter yang visioner. Pertama, perlu dilakukan penguatan peran mahasiswa. Mahasiswa perlu berefleksi tentang peran dan tugas mereka sebagai kelas terdidik yang tidak hanya belajar di kelas, tetapi memainkan peranan penting sebagai iron stock yang melanjutkan perjalanan bangsa. Dan, untuk kepentingan itu, belajar tidak cukup di dalam ruang kelas yang terbatas, tetapi lingkungan, termasuk organisasi kemahasiswaan harus pula dipahami sebagai wahana pembelajaran yang penting bagi pemupukan bekal mereka di kemudian hari.

Banyak contoh yang telah diwariskan oleh (gerakan) mahasiswa pada masa yang lalu untuk memberikan bhakti tertentu bagi masyarakat berbangsa dan bernegara, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Beberapa di antaranya sudah dicatat dalam sejarah perjalaan bangsa. Perhimpunan Indonesia, pada tahun 1922, yang dimotori oleh Mohammad Hatta di Belanda, bergerak untuk mewujudkan visi kemerdekaan Indonesia dalam cara pandang mahasiswa. Tahun 1970, gerakan mahasiswa yang dimotori oleh Wilopo, bergerak untuk melawan praktek korupsi pemerintahan Orde Baru, dan kemudian membentuk Gerakan Anti Korupsi. Tahun 1974, gerakan mahasiswa, yang dimotori Hariman Siregar, Adnan Buyung Nasution, dan kawan-kawan, juga turun ke jalan untuk melawan liberalisasi dan menolak kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Gerakan ini kemudian meletuskan Tragedi Malari. Satu dasawarsa lebih yang lalu, gerakan mahasiswa juga turun ke jalan-jalan dan melawan otoritarianisme Orde baru dan akhirnya berhasil memaksa Soeharto lengser keprabon.

Tetapi harus harus diakui beberapa dekade terakhir, terjadi perapuhan ideologis gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa tidak banyak dipandang sebagai gerakan perlawanan dan gerakan perubahan, akan tetapi lebih banyak mewujud sebagai labeling identitas simbolik dan aktivitas “daripada tidak”[11]. Situasi ini diperparah dengan de-radikalisasi gerakan mahasiswa melalui politik akomodasi negara atau birokrasi. Politik akomodasi yang dilakukan oleh negara melalui dibukanya kran-kran politik membuat gerakan mahasiswa melemah. Perangkulan yang dilakukan oleh birokrasi pemerintah terhadap aktivitas mahasiswa melemahkan spirit gerakan mahasiswa. Secara teknis, gerakan mahasiswa di kampus menjadi “moderat” karena anggaran kegiatan mereka embedded dalam anggaran birokrasi, baik dekanat maupun rektorat.

Kedua orientasi pergerakan yang mencerdaskan. Menurut hemat saya munculnya gerakan mahasiswa yang mewujud sebagai labeling identitas simbolik dan aktivitas “daripada tidak”, disebabkan mahasiswa gagal memaknai gerakan dan mendefinisikan “musuh” yang dilawan. Dan karena “tidak mau susah”, akhirnya aktivis mahasiswa terjebak pada aktivititas seremonial. Mereka di kampus maupun di luar kampus seringkali hanya berperan sebagai event organizer dalam banyak rutinitas aktivitas, sehingga tidak banyak upgrade kualitas yang mereka dapatkan. (Gerakan) mahasiswa semestinya bisa memainkan perannya dalam mendorong dan mengisi aktivitas gerakan dengan basis material yang kuat, keberpihakan yang jelas, intelektualitas yang mumpuni, dan sensitivitas yang tinggi untuk menyentuh persoalan-persoalan riil masyarakat. Kualitas demikian hanya mungkin dicapai dalam sistem dan kultur aktivitas gerakan yang mencerdaskan yang memberikan ruang bagi kebebasan nalar dan pikiran serta mentalitas mahasiswa.

Aktivitas (gerakan) mahasiswa semestinya dapat meramu berbagai programnya dengan berorientasi pada olah hati, olah pikir, olah raga dan kinestetik, dan olah rasa dan karsa. Sehingga muncul karakter mahasiswa yang jujur dan bertanggung jawab, cerdas, sikap bersih, sehat, dan menarik, serta memiliki kepedulian dan kreatifitas.

Ketiga, dalam skala yang lebih luas, organisasi kemahasiswaan dapat menjalin kerjasama dengan berbagai institusi untuk mengakselerasikan pembentukan karakter pada berbagai segmen, lapisan, dan tingkatan masyarakat. Karena, bagaimanapun, seperti telah dikemukakan di atas, pembentukan karakter dapat sukses hanya jika seluruh komponen masyarakat dan bangsa terlibat.


[1] Disampaikan pada LKM yang diselenggarakan oleh HMCH UPI pada 28 November 2010

[2] Mantan Presiden HMCH Periode 2003/2004, sekarang mengajar di AKBID dan AKPER Aisyiyah Bandung, STKIP Garut dan STKIP Ahmad Dahlan Subang. Untuk kepentingan akademik dapat melalui e-mail: baehaqi_arif@yahoo.co.id

[3] Azyumardi Azra, “Pendidikan Karakter: Peran Gerakan Perempuan”, disampaikan pada rangkaian seminar dalam rangka Muktamar Aisyiyah Ke-46, Yogyakarta, 5 Juli 2010

[4] Freddy kirana Kalidjernih, “Situasionisme: Refleksi untuk Pendidikan Karakter di Indonesia”, disampaikan dalam Seminar Aktualisasi Pendidikan Karakter yang diselenggarakan oleh Program Studi PKn SPs UPI, 15 November 2010.

[5] Mubiar Purwasasmita, “Memaknai Konsep Alam Cerdas dan kearifan Nilai Budaya Lokal dalam Pendidikan Karakter Bangsa”, dalam Prosiding seminar Aktualisasi Pendidikan Karakter, Bandung: Widya Aksara Press, 2010

[6] Kementerian Pendidikan Nasional, Rencana Induk Pengembangan Pendidikan  Karakter Bangsa, Jakarta, 2010

[7] Dasim Budimansyah, Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan untuk Membangun Karakter Bangsa, Bandung: Widya Aksara Press, 2010

[8] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Revitalisasi Visi dan Karakter Bangsa: Agenda Indonesia ke Depan, Yogyakarta, 2009

[9] Ibied, 2009

[10] Mubiar Purwasasmita, op cit, 2010

[11] Halili, Gerakan Mahasiswa dan Agenda Penyelamatan Bangsa”, Makalah, Yogyakarta, (tt)

KOMPETENSI KEWARGANEGARAAN UNTUK PENGEMBANGAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL INDONESIA

Dikdik Baehaqi Arif

Abstract

“Indonesia as a multicultural nation” should be understood as a social construction based on the pluralistic nature of the people and cultures in the Indonesian archipelago. This national imagination ushering the spirit of peaceful coexistence is reflected in the motto Bhinneka Tunggal Ika. Therefore, this paper argues that any Indonesian should possess a set of civic competencies to enhance their roles of citizens in a well-functioning society. These competencies, being the nation’s social and cultural capitals, can be developed either as school curricular programs, social and cultural programs or academic programs.

Kata kunci : citizenship, multiculturalism, civic education, civic competence

Pengantar

Negara bangsa Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok-kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain yang masing-masing plural (jamak) dan sekaligus juga heterogen (aneka ragam) (Kusumohamidjojo, 2000:45). Realitas pluralitas dan heterogenitas tersebut tergambar dalam prinsip Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti meskipun Indonesia adalah berbhinneka, tetapi terintegrasi dalam kesatuan. Hefner (2007:16) mengilustrasikan Indonesia sebagaimana juga Malaysia memiliki warisan dan tantangan pluralisme budaya (cultural pluralism) secara lebih mencolok, sehingga dipandang sebagai “lokus klasik” bagi bentukan baru “masyarakat majemuk” (plural society). Kemajemukan masyarakat Indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua cirinya yang unik, pertama secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan, dan kedua secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam (Nasikun, 2007:33).

Dalam pandangan Clifford Geertz (Hardiman, 2002:4), Indonesia ini sedemikian kompleksnya, sehingga sulit melukiskan anatominya secara persis. Negeri ini bukan hanya multietnis (Jawa, Batak, Bugis, Aceh, Flores, Bali, dan seterusnya), melainkan juga menjadi arena pengaruh multimental (India, Cina, Belanda, Portugis, Hindhuisme, Buddhisme, Konfusianisme, Islam, Kristen, Kapitalis, dan seterusnya). “Indonesia” demikian tulisnya, adalah sejumlah ‘bangsa’ dengan ukuran, makna dan karakter yang berbeda-beda yang melalui sebuah narasi agung yang bersifat historis, ideologis, religious atau semacam itu disambung-sambung menjadi sebuah struktur ekonomis dan politis bersama.

Baca lebih lanjut

MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

M. Quraish Shihab.

Jati diri manusia sebagai makhluk sempurna terletak pada pembentukan karakternya berdasar keseimbangan antar unsur-unsur kejadiannya, yang tercapai melalui pengembangan daya-daya yang dianugerahkan Tuhan.

Manusia adalah makhluk dwi-dimensi. Ia diciptakan Tuhan dari debu tanah dan ruh Ilahi. Debu tanah membentuk jasmaninya dan ruh Ilahi yang dihembuskan-Nya itu  melahirkan daya nalar, daya kalbu, dan daya hidup. Dengan mengasah daya nalar lahir kemampuan ilmiah; dengan mengasuh  daya kalbu lahir antara lain iman dan moral yang terpuji; dan dengan menempa daya hidup tercipta semangat menanggulangi  setiap tantangan  yang dihadapi.

Jati diri manusia sebagai makhluk sempurna terletak pada pembentukan karakternya berdasar keseimbangan antar unsur-unsur kejadiannya, yang tercapai melalui pengembangan daya-daya yang dianugerahkan Tuhan itu. Jati diri yang kuat serta sesuai dengan kemanusiaan manusia, terbentuk melalui jiwa yang kuat dan konsisten, serta memiliki integritas, dedikasi, dan loyalitas terhadap Tuhan dan sesama makhluk. 

Kendati setiap individu memiliki ego dan kepentingan-kepentingan pribadi yang dapat bertentangan dengan ego individu lain, namun mereka harus menjalin hubungan kerjasama, sebab manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri guna memenuhi kebutuhannya yang demikian banyak dan beragam. Guna langgeng dan harmonisnya jalinan kerja sama itu, maka harus dibangun atas dasar manfaat dan keuntungan bersama, bukan bertujuan  untuk menang sendiri atau kepentingan kelompok tertentu. Dari sinilah diperlukan moral, di mana seseorang mengorbankan sebagian kepentingan egonya demi mencapai tujuannya, bahkan demi membantu yang lain untuk mencapai tujuannya. Perlu dicatatat bahwa jiwa manusia merasakan kenikmatan rohani melebihi kenikmatan jasmani setiap berhasil mengendalikan dorongan nafsunya, selama kalbunya masih berfungsi dengan baik. Karena itu, dalam konteks meningkatkan kesadaran moral, perhatian harus banyak tertuju kepada kalbu.  

       

PEMBENTUKAN KARAKTER

Karakter berbeda dengan temperamen. Temperamen merupakan corak reaksi seseorang terhadap berbagai rangsangan dari luar dan dari dalam. Ia berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang, sehingga sangat  sulit diubah karena ia dipengaruhi oleh unsur hormon yang bersifat biologis. Sedang karakter terbentuk melalui perjalanan hidup seseorang. Ia dibangun oleh pengetahuan, pengalaman, serta penilaian terhadap pengalaman itu. Kepribadian dan karakter yang baik merupakan interaksi seluruh totalitas manusia. Dalam bahasa Islam, ia dinamai rusyd. Ia bukan saja nalar, tetapi gabungan  dari nalar, kesadaran moral, dan kesucian jiwa.  

Karakter terpuji  merupakan hasil internalisasi nilai-nilai  agama dan  moral pada diri seseorang yang ditandai oleh sikap dan perilaku positif. Karena itu, ia berkaitan sangat erat dengan kalbu. Bisa saja seseorang memiliki pengetahuan yang dalam, tetapi tidak memiliki karakter terpuji. Sebaliknya, bisa juga seseorang yang amat terbatas pengetahuannya, namun karakternya amat terpuji. “Sesungguhnya dalam diri manusia ada suatu gumpalan, kalau ia baik, baiklah seluruh (kegiatan) jasad dan kalau buruk, buruk pula seluruh (kegiatan) jasad. Gumpalan itu adalah hati”. 

Memang ilmu tidak mampu menciptakan akhlak atau iman, ia hanya mampu mengukuhkannya, dan karena itu pula mengasuh kalbu sambil mengasah nalar, memperkukuh karakter seseorang.

Dalam konteks membangun moral bangsa, maka diperlukan nilai-nilai yang harus disepakati dan dihayati  bersama.

Disepakati  karena kalau setiap orang diberi kebebasan untuk menentukan nilai itu, maka seorang perampok misalnya, akan menilai bahwa mengambil hak orang lain adalah tujuan dan bahwa kekuatan adalah tolok ukur hubungan antar masyarakat. Ini tentu saja akan merugikan masyarakat bahwa pada akhirnya merugikan diri yang bersangkutan sendiri.  Tetapi di sisi lain, jika kita tidak memberi kesempatan kepada manusia untuk memilih, maka ketika itu kita telah menjadikannya bagaikan mesin  bukan lagi  manusia yang memiliki kehendak, tanggung jawab, dan cita-cita.  Manusia harus memiliki pilihan, tetapi pilihan tersebut bukan pilihan orang perorang secara individu, tetapi pilihan mereka secara kolektif. Dari sini setiap masyarakat secara kolektif bebas memilih pandangan hidup, nilai-nlai, dan tolok ukur moralnya dan hasil pilihan  itulah yang dinamai  Jati diri bangsa.  Dengan demikian, jati diri bangsa terkait erat dengan kesadaran kolektif yang terbentuk melalui proses yang panjang. Memang  rumusannya dicetuskan oleh kearifan the founding  fathers bangsa, tetapi itu mereka  gali dari masyarakat dan karena itu pula maka masyarakat menyepakatinya. Jati diri bangsa Indonesia yang kita sepakati adalah Pancasila.

Nilai-nilai yang telah disepakati itu  harus dihayati, karena hanya dengan penghayatan nilai dapat berfungsi dalam kehidupan ini.  Hanya dengan penghayatan karakter dapat terbentuk. Tidak ada gunanya berteriak sekuat tenaga atau menulis panjang lebar tentang nilai-nilai dan keindahannya, jika hanya terbatas sampai di sana. Ini bagaikan seseorang yang memuji-muji kehebatan obat, tetapi obat itu  tidak  ditelannya sehingga tidak mengalir ke seluruh tubuhnya dan tidak menjadi bagian dari dirinya. Ia harus menelannya, lalu membiarkan darah mengalirkan obat itu ke seluruh tubuhnya, serta menyentuh dan mengobati bagian-bagian dirinya yang sakit,  bahkan lebih memperkuat lagi yang telah kuat.  

Selanjutnya, karena nilai-nilai yang dihayati membentuk karakter, maka nilai-nilai yang dihayati seseorang atau satu bangsa dapat   diukur melalui karakternya. Perubahan yang terjadi pada karakter, bisa jadi karena perubahan nilai yang dianut  atas dasar kesadaran mereka, dan bisa juga karena terperdaya atau lupa  oleh satu dan lain sebab. Dari sini diperlukan nation and character building.  Membangun kembali karakter bangsa mengandung arti upaya untuk memperkuat ingatan kita tentang nilai-nilai luhur yang telah kita sepakati bersama dan yang menjadi landasan pembentukan bangsa, – dalam hal ini adalah Pancasila, disamping membuka diri untuk menerima nilai-nilai baru yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar pandangan bangsa.  Inilah yang dapat menjamin keuntuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta kelestarian Pancasila sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa.

Semakin matang dan dewasa satu masyarakat, semakin mantap pula pengejewan-tahan nilai-nilai yang mereka anut dalam kehidupan mereka. Masyarakat yang belum dewasa, adalah yang belum berhasil dalam pengejewantahannya dan masyarakat yang sakit adalah yang mengabaikan nilai-nilai tersebut.Penyakit bila berlangsung tanpa diobati akan mempercepat kematian masyarakat. Bila penyakit masyarakat berlanjut tanpa pengobatan, maka kematian masyarakat tidak dapat terelakan.

Bila terdapat hal-hal dalam   diri angggota masyarakat yang bertentangan dengan jati diri dan tujuan itu, maka semestinya masyarakat meluruskan hal tersebut sehingga terjadi keharmonisan antara ego setiap individu dan kepentingan masyarakat. Sekali lagi terlihat disini betapa pentingnya melaklukan apa yang diistilahkan dengan  Character and Nation Building “

Masyarakat melakukan hal tersebut melalui pendidikan.  Disinilah terukur keberhasilan dan kegagalan pendidikan.  Karena itu pula  ukuran keberhasilan lembaga pendidikan – khususnya  Perguruan Tinggi-  bukan saja melalui  kedalaman ilmu dan ketajaman nalar para staf pengajarnya tetapi juga pada kecerdasan  emosi dan spiritual civitas akademikanya. Kecerdasan   intelektual-  jika   tidak dibarengi dengan kedua kecerdasan di atas, maka manusia bahkan kemanusiaan seluruhnya akan terjerumus dalam jurang kebinasaan. Sebaliknya jika kecerdasan intelektual dibarengi oleh kedua kecerdasan itu, maka keduanya akan membimbing seseorang untuk menggunakan pengetahuannya menuju kebaikan, yang pada gilirannya menghasilkan aneka buah segar yang bermanfaat bagi diri, masyarakat bahkan kemanusiaan seluruhnya.

Pembentukan karakter bangsa harus bermula dari individu anggota-anggota masyarakat bangsa, karena masyarakat adalah kumpulan individu  yang hidup di satu tempat dengan   nilai-nilai yang  merekat  mereka. Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu yang terbentuk   berdasar tujuan yang hendak mereka capai. Ini karena setiap individu lahir dalam keadaan hampa budaya, lalu masyarakatnya yang membentuk budaya dan nilai-nilainya, yang lahir dari pilihan dan  kesepakatan mereka . 

Membentuk karakter individu bermula dari pemahaman tentang diri  sebagai manusia, potensi positif dan negatifnya serta  tujuan kehadirannya di pentas bumi ini. Selanjutnya karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius, ber-Ketuhan Yang Maha Esa, maka tentu saja pemahaman tentang tentang hal-hal tersebut harus bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa / ajaran agama.

Untuk mewujudkan karakter yang dikehendaki diperlukan  lingkungan yang kondusif, pelatihan dan pembiasaan, presepsi terhadap pengalaman hidup dan lain-lain. Disisi lain katrakter yang baik  harus terus diasah dan  diasuh, karena ia adalah proses pendakian tanpa akhir. Dalam bahasa agama penganugerahan hidayat Tuhan tidak terbatas, sebagaimana tidak bertepinya samudra ilmu “ Tuhan menambah hidayatnya bagi orang yang telah memperoleh hidayat” dan Tuhanpun memerintahkan manusia pilihannya untuk terus memohon tambahan pengetahuan.  Praktek ibadah yang ditetapkan agama bukan saja cara untuk meraih karakter yang baik, tetapi juga cara untuk memelihara karakter itu  dari  aneka pengaruh negative yang bersumber dari dalam diri manusia dan  dari lingkungan luarnya, sekaligus ia adalah cara untuk mendaki menuju puncak karakter terbaik, -yang dalam ajaran Islam adalah upaya untuk meneladani sifat-sifat Tuhan yang tidak terbatas itu. Karena itu ibadah harus terus berlanjut hingga akhir hayat, dan karena itu pula pembentukan karakter adalah  suatu proses tanpa henti. 

Kalau merujuk kepada ajaran agama dan keberhasilan para nabi serta penganjur kebaikan, maka ditemukan sekian banyak cara yang mereka tempuh yang akhirnya mengantar kepada keberhasilan mereka.  Tentu tidak mudah hal itu  dipaparkan  secara utuh dalam kesempatan ini. Namun yang jelas, mereka tidak sekedar menyampaikan informasi tentang makna  baik  dan  buruk. Memang ini diperlukan untuk mewujudkan pemahaman yang mengantar kepada perubahan positif, tetapi jika terbatas hanya sampai disana, maka  ini  hanya mengantar kepada pengetahuan yang menjadikan pemiliknya pandai berargumentasi tentang kebaikan sesuatu- walau mereka tidak mengerjakannya  atau mengeritik keburukan yang mereka jumpai –walau mereka sendiri melakukannya. Hal serupa inilah yang kini tidak jarang terjadi dalam masyarakat kita.

Pengetahuan tanpa penghayatan, tidak dapat menimbulkan apa yang diistilahkan oleh pakar-pakar agama (tashawwuf) dengan halah  yakni kondisi psikologis yang mengantar seseorang   berkeinginan kuat untuk berubah secara positif.  Boleh jadi   keinginan berubah itu tidak muncul karena yang bersangkutan telah puas dengan  keadaannya buruk, yang dalam bahasa kitab suci Al-Qur’an  telah diperindah (oleh setan) keburukan amal-amalnya sehingga memperturutkan nafsunya (Q.S.Muhammad [47]:14) dan dengan demikian jangankan   menjadi climber – dalam  istilah  sementara psikolog – yakni pendaki kepuncak prestasi guna mengaktualisasikan diri,  menjadi camper yakni   berkemah pada pertengahan anak tangga  pendakianpun,  tidak mampu dilakukannya,  karena ia telah menjadi   quiter  berhenti bergerak,   menyerah kalah sebelum berusaha. Ini dalam bahasa Al-Qur’an dilukiskan dengan kalimat istahwaza ‘alaihihim Asy-Syaithan   (mereka telah dikuasai oleh setan  sehingga setan menjadikan mereka   lupa mengingat Tuhan” (QS. Al-Mujadalah [58]: 19).

Para nabi dan penganjur kebaikan di samping menjelaskan dan mengingatkan tentang baik dan buruk, mereka justeru lebih banyak melakukan olah jiwa dan  pembiasaan,  dengan aneka pengamalan yang  kalau perlu  pada mulanya dibuat-buat — bukan oleh dorongan kemunafikan tetapi — agar menjadi kebiasaan dan watak. Mereka juga  mengemukakan  aneka pengalaman sejarah masyarakat dan  tokoh-tokoh masa lampau.  Disamping itu, mereka  berusaha sekuat kemampuan untuk mengurangi sedapat mungkin pengaruh negative lingkungan, karena  melalui lingkungan, watak dapat berubah menjadi  positif atau negatif. Hanya saja perlu dicatat bahwa pada umumnya pengaruh negatif lingkungan lebih mudah diserap daripada pengaruh positifnya. Sedang pendekatan yang mereka lakukan guna menciptakan watak masyarakat adalah pendekatan   buttom-up, yang mereka tularkan kepada keluarga, lalu sahabat dan handai tolan dalam lingkungan kecil hingga mencakup seluruh masyarakat. Wallâhu a’lamu bish-shawwâb.

Sumber : Pusat Studi Al-Quran

Malu itu Baik

Solihin 

Abu Mas’ud, Uqbah ibn Amr Anshari al Badri ra mengatakan bahwa Rasulullah saw berkata, ”Sabda Nabi paling pertama yang dikenal atau diketahui manusia adalah, ‘Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah semaumu’,” (HR Bukhari, Abu Dawud, Ahmad).

Jangan salah mengerti dengan hadis tersebut. Hadis di atas bukan berarti bahwa Rasulullah saw memberikan kebebasan tanpa batas pada manusia untuk bertindak semaunya. Sebaliknya, hadis itu merupakan sindiran bagi orang-orang yang tak punya malu berbuat kejahatan/kenistaan. Hadis yang disampaikan melalui Abu Mas’ud ra itu justru mengancam orang yang tidak mempunyai rasa malu dalam melakukan apa saja yang dia kehendaki dengan risiko ditanggung sendiri. Ungkapan seperti itu juga dinyatakan Allah dalam firman-Nya, ”Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS Al Fushshilat: 40).

Malu memang bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nuraninya. Rasa malu pula yang membuat seseorang akan dikejar-kejar rasa bersalah. Karena itu, hakikatnya malu adalah salah satu perangkat yang diciptakan Allah untuk mencegah kita dari perbuatan dosa. Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ”Malu hanya membawa kepada kebaikan,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya rasa malu itu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga iman kita agar sendi-sendinya tidak tercerabut dan bangunannya tidak hancur. Sebagai contoh, bila ada orang melihat massa ramai-ramai menjarah dan membakar toko, lalu orang tersebut sadar bahwa perbuatan tersebut tergolong tindakan tercela, maka ia akan mencegah dirinya agar tak ikut-ikutan menjarah. Sebagai mukmin ia malu melakukannya.

Andai para pejabat malu melakukan praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotis, tentu masyarakat kita tak akan serusak seperti sekarang ini. Di negara lain, Indonesia dikenal sebagai negara terkorup di Asia. Banyak pejabat, mungkin, selama ini merasa aman-aman saja ketika dia melakukan korupsi. Dalam hati mereka mungkin tak ada setitik pun rasa malu terhadap Allah yang jelas menyaksikan semua tindakan manusia. Mungkin mereka masih punya malu terhadap manusia lain, sehingga mereka merasa malu bila ketahuan. Tapi, rasa malu terhadap manusia pun mulai terkikis oleh anggapan, ”Ah, toh hampir semua pejabat melakukannya. Pejabat mana yang bisa kaya tanpa korupsi.”

Hilangnya rasa malu terhadap Allah ini sungguh menyedihkan. Orang yang tak punya malu terhadap Allah akan cuek melanggar perintah dan larangan-larangan-Nya. Semua itu dilakukan tanpa rasa dan tanpa malu. Semestinya kita bercermin pada sabda Rasulullah saw, ”Allah SWT itu lebih berhak untuk dimalui daripada manusia,” (HR Ashabu Sunan). Dengan memegang sikap ini — yakni lebih malu kepada Allah ketimbang kepada manusia — maka insya Allah kita terjaga dari jurang kemaksiatan dan kenistaan.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/45916/Malu_itu_Baik

Pendidikan Kewarganegaraan di Jepang

Dikdik Baehaqi Arif

Abstract: Tulisan ini mengkaji konteks kelahiran, landasan pengembangan, kerangka sistemik, dan kurikulum dan bahan ajar pendidikan kewarganegaraan di Jepang yang lebih dikenal dalam terminologi social studies, living experiences and moral education. Pendidikan kewarganegaraan di Jepang semakin mendapatkan perhatian penting terutama sejak berakhirnya perang dunia kedua. Perkembangan mata pelajaran ini dapat digambarkan dalam tiga periode yang masing-masing memiliki orientasi yang berbeda, yaitu berorientasi pada pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan.

Keywords: social studies, living experience and moral education

 

Pendahuluan

Berakhirnya Perang Dunia Kedua berpengaruh besar terhadap perjalanan bangsa dan negara Jepang, terlebih pada aspek pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas yang diperlukan bagi pembangunan kembali Jepang yang porak poranda akibat perang. Perhatian besar Jepang terutama difokuskan pada aspek pendidikan. Periode setelah kekalahan jepang dalam perang, menjadi titik balik yang sangat penting bagi pendidikan di Jepang.

Pendidikan kewarganegaraan di Jepang yang dikenal dalam terminologi social studies, living experience and moral education (Kerr, 1999), berorientasi pada pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan warga negara berkaitan dengan upaya untuk membangun bangsa Jepang. Dalam tulisan ini, kajian pendidikan kewarganegaraan di Jepang akan memfokuskan diri kepada kajian tentang konteks kelahiran, landasan pengembangan, kerangka sistemik, dan kurikulum dan bahan ajar pendidikan kewarganegaraan di Jepang.

Baca lebih lanjut