Bertetangga

Akhir November yang lalu, keluarga kami ditimpa ujian. Anak kami yang pertama kecapaian dan pingsan di kolam renang ketika mengikuti outbond yang digelar sekolahnya. Segera anak kami dibawa masuk RSU PKU Muhammadiyah Bantul, sebuah rumah sakit swasta yang prestisius di Kabupaten Bantul. Informasi anak kami masuk rumah sakit kami peroleh dari rekan kerja di kampus.

Sesampainya di rumah sakit, saya dapati anak masih dirawat di bagian Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan keputusannya adalah anak harus opname. Setelah beberapa waktu mengurus administrasi rumah sakit, anak pun dibawa ke ruangan perawatan, Bangsal Al Ikhlas 5 dan kemudian pindah ke Bangsal Al Ikhlas 3.

Beberapa hari kami menunggui anak dirawat. Kabar dirawatnya anak kami pun tersiar ke rekan kerja kami di kampus, guru dan orang tua di sekolah anak kami, dan tetangga-tetangga kami di perumahan. Sejak itu, hampir setiap hari, pada saat jam bezoek, ruangan perawatan anak kami dikunjungi rekan kerja, guru-guru sekolah anak kami dan tetangga kampung secara bergantian, sendirian atau pun rombongan. Tak henti kami bersyukur dan berterimakasih atas kunjungan mereka. Kami pun turut memohon do’a mereka untuk kesembuhan anak kami.

Dalam perenungan kami, inilah hikmah yang kami peroleh dari bertetangga. Kami benar-benar merasakan kehadiran tetangga. Bahkan setelah anak kami keluar dari rumah sakit, rumah kami masih juga mendapat kunjungan dari para guru dan tetangga rumah kami.

Kami tinggal di sebuah perumahan yang di kanan kiri, depan belakangnya diapit oleh perkampungan. Di perumahan kami, tinggal orang muslim, non muslim, beragam profesi dan pekerjaan, tua muda, dan beragam karakteristik lainnya. Posisi perumahan yang diapit oleh perkampungan, ternyata membawa dampak positif pada kehidupan di perumahan kami. Kehidupan warga perumahan tidak seperti yang kami bayangkan di awal, serba sendiri, individualis, dan tidak peduli dengan tetangganya, tetapi diwarnai oleh nilai-nilai kekeluargaan dan persaudaraan, kerjasama dan gotong royong, serta nilai positif lainnya.

Kami terbiasa untuk kerja bakti, gotong royong dalam berbagai hal. Jika ada tetangga yang sedang menggelar acara syukuran, pernikahan, khitanan, dan lainnya, kami akan turut serta membantu mempersiapkan segalanya. Jika ada tetangga yang sakit, kami akan menjenguknya, baik ketika sedang dirawat maupun setelah kembali ke rumah. Demikian, aktifitas persaudaraan di perumahan demikian terasa bagi kami yang belum lama menempati perumahan itu.

 

Hikmah Bertetangga

Bertetangga berarti membangun akhlak positif dengan orang yang hidup di sekitar rumah tinggal kita. Ada tetangga dekat, ada pula tetangga jauh. Tidak ada batasan pasti tentang siapa sajakah yang dapat disebut tetangga. Ali bin Abi Thalib menyebut, tetangga adalah siapapun yang mendengar panggilanmu. Seorang ulama menyatakan, siapapun yang shalat subuh berjamaah di masjid bersamamu adalah tetanggamu. Untuk sekadar ancar-ancar dalam sebuah kesepakatan umum, bahwa tiap empat puluh rumah adalah tetangga-tetangga, yang di depan, di belakang, di sebelah kanan, dan di sebelah kiri.

Ada banyak ragam tetangga, ia bisa saja muslim, non muslim, orang saleh maupun sebaliknya, teman ataupun lawan, bisa senegara bisa orang asing, bisa orang yang memberi manfaat maupun yang memberi mudharat. Apapun, mereka adalah tetangga kita.

Tetangga adalah  mereka yang turut andil membangun kebahagiaan kita. Adalah sabda Rasulullah SAW “Di antara kebahagiaan seorang muslim ialah mempunyai tetangga yang saleh, rumah yang luas, dan kendaraan yang menyenangkan” (HR Ahmad). Karena itu, sebelum memilih tempat tinggal, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah siapa yang akan menjadi tetangga kita.

Setelah bertetangga, ada kewajiban yang dipikul setiap muslim, Allah SWT berfirman “Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh” (QS An Nisa, 4:36). Dalam keterangan tersebut, berbuat baik kepada tetangga, yang jauh maupun dekat sama pentingnya dengan berbuat baik kepada ibu bapak, yatim piatu dan orang miskin. Dan ini berlaku untuk siapapun tetangga kita.

Bertetangga yang baik adalah cabang dari iman. Rasulullah SAW menegaskan, seseorang yang membuat tetangganya tidak aman dari kejahatannya bukan termasuk orang yang beriman. Beliau Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya tidak menyakiti tetangganya” (HR al Bukhari).

Nabi SAW juga berwasiat, “Demi Allah, tidak beriman dia. Demi Allah, tidak beriman dia. Demi Allah, tidak beriman dia. Seorang sahabat bertanya, siapa ya Rasulullah? Rasulullah bersabda” ‘Yang membuat tidak aman tetangganya dengan bahaya’.” (HR Muttafaq alaihi).

Dalam hidup bertetangga, seberapa kebaikan yang diperoleh biasanya sejalan dengan kebaikan yang ditabur. Rumusnya sederhana, perlakukan tetanggamu sebagaimana ingin diperlakukan oleh mereka. Ada kisah kemuliaan bertetangga yang dicontohkan Hasan al Basri, seorang tabi’in yang bertetangga dengan seorang Yahudi yang egois. Suatu saat tabi’in tersebut sakit dan dijenguk oleh seseorang. Tamu itu menengok ada tetesan air dari atap jatuh di sebelah tempat tidurnya. Ia bertanya:

“Air berbau itu dari mana?”

“Dari toilet tetangga,” jawab Hasan al Basri

“Sudah berapa lama?”

“Sudah 11 tahun.”

“Kenapa engkau tidak memprotesnya?”

“Aku ingin memelihara hubungan baik dengan tetangga,” tegas Hasan al Basri.

Semoga ujian yang menimpa keluarga kami, dan pembacaan kami terhadap tetangga kami, menjadi pelecut kami untuk senantiasa memuliakan tetangga. “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk di tempat pemukiman”. [dba]

 

Iklan

Membaca Akhlak Infotainment

Dikdik Baehaqi Arif*

‘Awalnya malu-malu lama-lama mau’, demikian bunyi iklan yang pernah terpajang lebar di sudut-sudut kota dan sempat menghentak nurani kita. Sekalipun beberapa pemimpin daerah merespon untuk menurunkan tayangan iklan itu, tetapi kita tetap bertanya, apa yang diinginkan produsen rokok itu?

Kita menyaksikan media televisi, media cetak, online, dan lainnya getol menyuguhkan informasi tentang para pesohor negeri lewat program infotainment (baca: gossip). Tiada hari tanpa gosip. Mulai informasi kedekatan dua pasangan selebiriti, jalinan asmara, perkawinan, permasalahan rumah tangga, sampai perceraian disajikan dengan beragam cara untuk menarik publik. Termasuk juga informasi kelahiran, kematian juga menjadi tayangan yang tidak terlewatkan. Pokoknya, segala hal yang berkaitan dengan selebriti, baik atau buruk tersaji lewat infotainment itu. Lagi-lagi kita bertanya, apa yang diingingkan program infotainment itu?

Iklan yang bernada pornografi, dan derasnya infotainment yang disuguhkan telah menyebabkan ‘segala sesuatu’ menjadi hal yang boleh dan biasa di mata masyarakat. Pudarlah sekat wilayah privat – yang menjadi hak pribadi setiap individu – dan wilayah publik yang menjadi hak masyarakat umum. Lepaslah kriteria benar (haq) dan salah (bathil). Untuk menyebut contoh, intim dua pasangan berbeda jenis kelamin di depan publik – seperti tergambar dalam iklan rokok – hamil di luar nikah, perzinahan, dan tindakan asusila lainnya ditanggapi masyarakat sebagai hal biasa, tidak perlu dirisaukan, dan tak ada kaitannya dengan kriteria benar atau salah. Bagi para pelaku, tersebarnya aib tidak menyebabkan mereka merasa malu, malah sebaliknya, mereka dengan bangga memperkenalkan anak hasil hubungan di luar nikah, memperkenalkan pasangan di luar nikah, bahkan mempertontonkan keintiman mereka di depan publik.

Jika mengiklankan pornografi dan menyiarkan aib seseorang terus dilakukan dan tidak ada lagi pertimbangan moral mayarakat untuk menerima atau menolaknya, maka disadari atau tidak, kita tengah menanam benih kehancuran dalam masyarakat kita. Apabila terus dibiarkan, bukan mustahil kita akan menyaksikan masyarakat kita hancur karena tidak memiliki akhlak, watak, atau karakter baik untuk membangun diri dan masyarakat.

Menunjukkan perbuatan pornografi di ruang publik jelas merupakan kesalahan. Demikian juga perbuatan menceritakan aib orang lain – dikenal dengan ghibah – jelas-jelas terlarang dan perbuatan dosa. Ghibah berdosa karena menunjukkan adanya kezaliman terhadap orang lain dengan menyakiti hati orang yang digunjingkan.

Bagaimana sesuatu bisa dianggap ghibah? Dalam salah satu keterangan hadits, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah.” Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Yaitu engkau menceritakan saudaramu apa yang tidak ia suka.” Ada yang bertanya: Bagaimana jika apa yang aku katakan benar-benar ada pada saudaraku?. Beliau menjawab: “Jika padanya memang ada apa yang engkau katakan maka engkau telah mengumpatnya dan jika tidak ada maka engkau telah membuat kebohongan atasnya.” (Riwayat Muslim). Perumpamaan mereka yang melakukan ghibah dilukiskan Allah SWT dalam keterangan Al Qur’an, bahwasanya ghibah pada saudara seiman sama artinya dengan memakan bangkai saudara sendiri. Tentu saja perilaku memakan bangkai saudara adalah perbuatan menjijikan dan tidak normal.

Meski begitu, ada kesepakatan ulama yang memperbolehkan kita membicarakan orang lain. Kesepakatan itu adalah: 1) Membicarakan orang yang akan berbuat zalim (kepada kita) kepada orang yang dianggap mampu menangani masalah tersebut; 2) Membicarakan orang yang berbuat munkar kepada orang yang kita mintai bantuan untuk mengubah kemunkaran tersebut; 3) Membicarakan orang untuk dimintakan fatwa (mengenai orang tersebut); 4) Membicarakan orang untuk dijadikan cermin dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu menyebutkan nama orang yang bersangkutan (jika memang tidak diperlukan); 5) Mengumumkan atau menerangkan kefasikan seperti pemakai narkoba yang oleh pecandunya hal tersebut begitu dibangga-banggakan; dan 6) Mengetahui identitas orang yang diperlukan karena tidak cukup hanya dengan mengenal namanya saja.

Keenam hal di atas boleh dilakukan, sepanjang maksudnya sesuai. Tetapi, harus diingat bahwa siapa saja yang dapat menutup kekurangan saudaranya, maka sejatinya tidak hanya menutup kekurangan saudaranya, tetapi ia telah menutup kekurangannya sendiri di dunia dan kelak di akhirat. Dalam salah satu keterangan hadits, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (Riwayat Muslim).

Sudah saatnya, tayangan-tayangan yang bernada pornografi dan melulu menceritakan kekurangan seseorang dihentikan. Masyarakat memang butuh informasi, tetapi hendaknya informasi itu disampaikan secara proporsional dan mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat dan makin memeperkuat akhlak kewargaan (civic virtue) yang baik. “Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan kekurangannya (aibnya) sehingga ia tidak memperhatikan kekurangan (aib) orang lain.

*Penulis adalah Dosen Universitas Ahmad Dahlan, dan Penggagas Lingkar Studi Kewargangaraan PPKn UAD

Dimuat dalam ‘Rubrik Lentera’ Koran Sindo Yogya, Senin 27 April 2015, hlm 8

Ibu Azis: In Memoriam

Pagi hari, ketika membuka jejaring sosial, sahabat saya menulis statusnya:

Innalillahi wa innaailaihi roziun. Telah berpulang ke rahmatulloh, ibu dra. Sri Wurian Azis, pada hari Jumat 26 april 2013 sekitar pukul 22 wib di rs adven bdg. Mohon doa restunya semoga almarhumah diterima disisi Alloh swt. Aamiin.”

Seketika terucap Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, sesungguhnya semua dari Allah dan kembali kepada Allah, seraya memanjatkan do’a Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Teringat kembali beberapa di akhir Maret 2013 yang lalu, di sela-sela acara seminar internasional PKn yang diselenggarakan Jurusan PKn di Bandung, saya bertemu beliau, dan sambil bersalaman, saya tanya beliau “Bu, masih ingat saya?”. Dengan gaya dan cara bicaranya yang khas, Bu Azis, begitu saya biasa memanggil beliau, menjawab “Ya, iyalah….kamu yang waktu itu sakit, kan?” Beliau coba mengingat-ingat memorinya tentang saya. “Iya, Bu” Jawab saya. “Di mana sekarang, katanya di Jogja, ya?” tanyanya lagi. “Iya, Bu di Universitas Ahmad Dahlan”. “Oh ya syukurlah…Saya itu di Kauman, indekos di sana waktu SMP dan SMA, sekolah saya kan di Muhammadiyah” cerita beliau. “Saya ke Bandung itu karena kuliah di Bandung” tambahnya lagi. “Begitu ya bu, mohon do’anya ya bu” pinta saya kemudian. “Iya lah pasti saya do’akan, dimana saja, murid saya harus maju”.

Bagi saya dan mungkin Komunitas PKn 2001 (Prof. Idrus Affandi menyebutnya angkatan Abu Nawas), atau kita sebagai murid beliau tahu betul gaya beliau ketika menyampaikan materi Ilmu Kewarganegaraan, berulang-ulang disebutkan “to be good citizenship”. Saya sendiri menerima materi itu pada minggu-minggu awal sebagai mahasiswa baru, sekitar September 2001. Waktu itu dengan didampingi Pak Syaifullah (kini Ketua Jurusan PKn UPI) beliau semangat sekali menyampaikan materi tentang perkembangan historis IKn di Amerika Serikat, termasuk mengomentari Peristiwa 11 September 2001, “Apa itu, jihad-jihad, Osama bin Laden, urus dulu Indonesia!” begitu kira-kira tanggapan yang beliau lontarkan.

Bu Azis, pernah mendampingi kami, Komunitas Abu Nawas kuliah lapangan ke Kasunanan Surakarta dan wisata di Yogyakarta. Waktu itu, beliau bersama Bu Dartim, Pak Syaifullah dan Pak Prayoga. Beliau semangat sekali menemani kami di Kraton Surakarta, termasuk jalan-jalan di Malioboro Yogyakarta.

Bagi saya, hal yang tak pernah lupa adalah komentar dan kritik beliau ketika tiba waktunya saya tampil berperan sebagai guru dalam kuliah Teori dan Latihan Keterampilan Belajar Mengajar (TLKBM). Kalau tidak salah, waktu itu beliau dengan Bu Lili dan Bu Kokom Komalasari. Selesai saya berperan sebagai guru, Bu Azis berkomentar “Anda itu jadi guru atau provokator? Jangan provokasi siswa! Masa di kegiatan penutup, guru bilang terimakasih atas perhatian murid? Ini juga Silabus dan RPP apa?, ngawur?” Komentar sekaligus kritikan itu tak pernah saya lupakan sampai hari ini.

Saya kira, kita setuju, Bu Azis orang baik. Selamat jalan Bu Azis, semoga khusnul khatimah. Semoga Pak Azis dan keluarga yang ditinggalkan ikhlas dengan takdir Allah ini. Sesungguhnya kematian itu pasti adanya, hanya masalah waktu saja.

Yogyakarta, 27 April 2013

Optimalisasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan untuk Pembinaan Karakter Warga Negara Muda

ABSTRAK Pembinaan karakter pada warga negara muda penting dilakukan. Sebab manusia yang berkarater baiklah yang mampu membangun kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dewasa ini terdapat kecenderungan semakin tergerusnya karakter baik pada diri warga negara, seperti semakin meningkatnya fenomena penganiayaan, kekerasan, kejahatan, pelanggaran, dan perilaku korupsi. Tentu kita tidak ingin bangsa ini dihuni oleh warga negara yang tidak memiliki karakter baik, termasuk dalam diri warga negara muda sebagai pelangsung pembangunan bangsa. Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) sebagai organisasi otonom Muhammadiyah dipandang memiliki kontribusi besar dalam membina warga negara muda menjadi insan berkarakter baik. HW yang memiliki sejarah dan kontribusi besar dalam pembangunan bangsa sejak kelahirannya adalah sistem pendidikan di luar keluarga dan sekolah untuk anak, remaja, dan pemuda untuk membentuk mereka sebagai insan yang kuat dalam aqidah, fisik dan mental, berilmu dan berteknologi serta berakhlaqul karimah. Sehingga dengan bekal itu, pandu muda HW diharapkan dapat menjadi muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader persyarikatan, umat, dan bangsa. Karena itu optimalisasi peran gerakan kepanduan HW akan memperkaya khazanah kepanduan nasional sebab dengan tiga prinsip dasarnya, yaitu pengamalan aqidah Islamiah; pembentukan dan pembinaan akhlak mulia menurut ajaran Islam; dan pengamalan kode kehormatan pandu, akan lahir warga negara muda yang memiliki karakter baik berbasis nilai-nilai agama Islam.

KATA KUNCI: kepanduan, kepanduan nasional, karakter, karakter baik, islam Baca lebih lanjut

MENCARI KARUNIA ALLAH

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

(QS Al Jumuah, 62:10).

 

Ketika memutuskan untuk mengikuti seleksi calon karyawan edukatif di sebua perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, ada beberapa teman yang mengajukan pertanyaan “Mengapa harus ke Jogja?”, “Bagaimana dengan keluarga kecil yang sedang dibangun?” dan “Bagaimana pula dengan rumah dan beberapa pekerjaan di sini?”. Pertanyaan itu tentu saja pantas dan beralasan diajukan kepada saya. Sebab, ke depannya (kalau ternyata lolos dan dinyatakan diterima), sudah barang tentu waktu saya akan lebih banyak dihabiskan di kota pelajar itu, bukan di Bandung sebagaimana tempat tinggal sekarang.

Saya memahami betul pertanyaan-pertanyaan itu, dan berupaya mencari jawaban terbaik yang meyakinkan teman-teman bahwa saya pantas mengambil pilihan ini. Saya menjawab “ini mungkin sudah garis hidup, jalannya harus begini”. Saya rasa jawaban itu tepat diberikan atas pertanyaan tadi. Walaupun, tentu saja, ini adalah jawaban normatif sebagai upaya pembenaran yang semua orang bisa kemukakan.

Tetapi dalam reunungan saya, tentang cerita hidup yang dijalani beberapa hari terakhir ini, saya teringat akan firman Allah SWT dalam Al Qur’an. Menurut terjemahan yang saya temukan, firman Allah SWT itu diartikan sebagai berikut: Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS Al Jumuah, 62:10).

Dengan keterbatasan cara berpikir dan pengetahuan tentang metodologi tafsir yang saya miliki, saya berupaya memaknai ayat itu. Beberapa istilah saya susun dan renungkan, shalat, bertebaran di muka bumi, karunia, mengingat Allah, dan beruntung. Dalam lintasan pikiran saya tersimpul, bahwa Allah demikian sayang kepada hamba-hamba-Nya, Dia memberikan panduan kepada hamba-Nya agar tergolongkan sebagai insan yang beruntung. Shalatlah, bertebaranlah di bumi Allah yang luas, dan carilah karunia-Nya, seraya tetap mengingat Allah sebanyak-banyaknya. Inilah barangkali rumus hidup untuk mencapai keberuntungan. Lalu adakah saya sedang bertebaran di bumi Allah dan mencari karunia-Nya? Wallahu’alam bisshawab.


 

GOSSIP: MENJADI BIASA, PUDARNYA SEKAT BENAR DAN SALAH

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan aibnya sehingga ia tidak memperhatikan aib orang lain.” Riwayat Al-Bazzar dengan sanad hasan.

Dewasa ini hampir tidak pernah kita lepas dari suguhan informasi tentang para pesohor negeri ini yang dikemas lewat infotainment (baca: gossip). Setiap hari, pagi, siang, sore, bahkan malam hari beragam acara televisi memanjakan mereka yang haus informasi para selebriti negeri ini. Mulai informasi kedekatan dua pasangan selebiriti, jalinan asmara, perkawinan, permasalahan rumah tangga, sampai perceraian disajikan dengan beragam cara untuk menarik publik. Bahkan tidak ketinggalan, informasi kelahiran, kematian juga menjadi tayangan yang tidak terlewatkan. Pokoknya, segala hal yang berkaitan dengan selebriti, baik atau buruk tersaji lewat infotainment itu. Masing-masing stasiun televisi mengemas infotainment semenarik mungkin tujuannya tiada lain adalah untuk meningkatkan rating acara mereka. Bahkan tidak jarang, gaya bicara yang melecehkan, dan tanggapan sinis disampaikan presenter infotainment demi mengundang rasa kepenasaran dan keingintahuan masyarakat.

Infotainment tidak cukup hanya disajikan lewat media televisi, beragam media cetak juga menjejali masyarakat dengan beragam infotainment yang tidak kalah derasnya dengan media televisi. Bahkan muncul media cetak khusus yang membahas tentang berita para pesohor negeri ini, bahkan diselipi berita selebriti dunia. Mereka berdalih, tujuannya memberikan informasi bagi masyarakat.

Derasnya infotainment yang disuguhkan kepada masyarakat telah menyebabkan segala sesuatu menjadi hal yang biasa di mata masyarakat. Pudarlah sekat wilayah privat yang menjaid hak pribadi setiap individu dan wilayah publik yang menjadi hak masyarakat umum, dan lepaslah kriteria benar (haq) dan salah (bathil). Untuk menyebut contoh, hamil di luar nikah, perzinahan, intim di depan publik, dan tindakan asusila lainnya ditanggapi oleh masyarakat sebagai hal biasa, tidak perlu dirisaukan, dan tak ada kaitannya dengan kriteria benar atau salah. Bagi para pelaku, tersebarnya aib tidak menyebabkan mereka merasa malu, malah sebaliknya, dengan bangganya mereka memperkenalkan anak hasil hubungan di luar nikah, memperkenalkan pasangan di luar nikah, bahkan mempertontonkan keintiman mereka di depan khalayak.

Jika perbuatan menceritakan atau menyiarkan aib seseorang dianggap sebagai hal yang biasa, masyarakat menanggapi berbagai informasi itu dengan sikap yang biasa-biasa pula, serta tidak ada rasa malu pada diri mereka yang berbuat, maka disadari atau tidak, kita tengah menanam benih kehancuran dalam masyarakat kita. Apabila terus dibiarkan, maka bukan mustahil kita akan menyaksikan masyarakat kita yang hancur karena tidak memiliki akhlak, watak, atau karakter baik sebagaimana diperlukan dalam membangun masyarakat.

Perbuatan menceritakan aib orang lain (dikenal dengan istilah ghibah) jelas-jelas terlarang dan perbuatan dosa. Ghibah berdosa karena menunjukkan adanya kezaliman terhadap orang lain dengan menyakiti hati orang yang digunjingkan. Bagaimana sesuatu bisa dianggap ghibah? Dalam salah satu keterangan hadits, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah.” Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Yaitu engkau menceritakan saudaramu apa yang tidak ia suka.” Ada yang bertanya: Bagaimana jika apa yang aku katakan benar-benar ada pada saudaraku?. Beliau menjawab: “Jika padanya memang ada apa yang engkau katakan maka engkau telah mengumpatnya dan jika tidak ada maka engkau telah membuat kebohongan atasnya.” (Riwayat Muslim). Perumpamaan mereka yang melakukan ghibah dilukiskan Allah SWT dalam keterangan Al Qur’an, bahwasanya ghibah pada saudara seiman sama artinya dengan memakan bangkai saudara sendiri. Tentu saja perilaku memakan bangkai saudara adalah perbuatan menjijikan dan tidak normal.

Meski begitu, ada kesepakatan ulama yang memperbolehkan kita membicarakan orang lain. Kesepakatan itu adalah: 1) Membicarakan orang yang akan berbuat zalim (kepada kita) kepada orang yang dianggap mampu menangani masalah tersebut; 2)Membicarakan orang yang berbuat munkar kepada orang yang kita mintai bantuan untuk mengubah kemunkaran tersebut; 3) Membicarakan orang untuk dimintakan fatwa (mengenai orang tersebut); 4) Membicarakan orang untuk dijadikan cermin dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu menyebutkan nama orang yang bersangkutan (jika memang tidak diperlukan); 5) Mengumumkan atau menerangkan kefasikan seperti pemakai narkoba yang oleh pecandunya hal tersebut begitu dibangga-banggakan; dan 6) Mengetahui identitas orang yang diperlukan karena tidak cukup hanya dengan mengenal namanya saja.

Keenam hal di atas boleh dilakukan, sepanjang maksudnya sesuai. Tetapi, harus diingat bahwa siapa saja yang dapat menutup kekurangan saudaranya, maka sejatinya bukan saja ia menutup kekurangan saudaranya, tetapi ia telah menutup kekurangannya sendiri di dunia dan kelak di akhirat. Dalam salah satu keterangan hadits, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (Riwayat Muslim).

Sudah saatnya, tayangan-tayangan yang melulu menceritakan kekurangan seseorang itu dihentikan. Masyarakat memang butuh informasi, tetapi hendaknya informasi itu disampaikan secara proporsional dengan mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat. “Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan kekurangannya (aibnya) sehingga ia tidak memperhatikan kekurangan (aib) orang lain. Wallahu’alam bisshawab

HIDUPLAH SEPERTI APA YANG KITA JALANI

DALAM perjalanan pulang selepas memberikan kuliah di salah satu sekolah tinggi di kota Subang, saya buka-buka laman web salah satu universitas bermaksud mencari informasi tentang pengumuman kelulusan CPNS dosen yang sebelumnya saya ikuti. Ternyata benar, pengumuman resmi sudah muncul di laman web universitas tersebut. Saya buka dan saya ikuti tahap demi tahap pengumuman itu. Namun saya dapati kenyataan nama saya tidak termasuk satu diantara beberapa peserta yang dinyatakan lolos pada tahap pertama.

Beberapa kali saya ulang proses pencarian informasi itu, dengan harapan ada informasi yang berbeda, dimana saya termasuk dalam kelompok mereka yang lolos pada tahap pertama. Tetapi, berkali-kali saya buka, berkali-kali pula saya tidak menemukan nama saya tertera dalam pengumuman itu. Sampai akhirnya saya berkesimpulan “benar” saya tidak lolos. Tapi mengapa?

Pertanyaan itu memaksa saya untuk memutar kembali memori saya ketika mengikuti seleksi. Ada tiga pertanyaan yang melintas dalam pikiran saya, 1) apakah ketidaklolosan saya pada tahap pertama itu karena kecerobohan saya dalam mengisi lembar jawaban komputer, keliru menuliskan nama, tanggal lahir, jenis kelamin, kode tempat seleksi, kode kualifikasi akademik, dan tanda tangan?; 2) apakah karena ketidakmampuan saya mengisi soal-soal tes TPU dan TBS sehingga tidak memenuhi passing grade yang dibutuhkan untuk menjadi seorang dosen?; atau 3) apakah saya memang tak seharusnya lolos?

Ketiga pertanyaan itu memaksa saya untuk berfikir, merenung mencari jawabannya. Untuk pertanyaan pertama, saya rasa kecil kemungkinan itu terjadi, karena sebelum waktu pelaksanaan tes dimulai, 10-15 menit sebelumnya lembar jawaban komputer sudah dibagikan pengawas untuk diisi, sehingga saya punya waktu yang cukup leluasa untuk mengisi, memeriksa dan mengoreksi beberapa kekeliruan, bahkan itu dilakukan berulang-ulang. Kedua, ketidakmampuan saya menjawab soal-soal tes. Terus terang dibanding pelaksanaan tes tahun lalu – tahun lalu saya juga mengikuti tes yang sama, lolos tahap pertama tetapi tidak sempat mengikuti tes tahap kedua karena sakit –,  persiapan untuk tes tahun ini saya rasakan lebih intens dan maksimal. Saya bersama istri – yang kebetulan mengikuti tes yang sama di univeritas yang lain – belajar mengerjakan soal-soal contoh tes CPNS, bahkan untuk bisa menjawab soal-soal bahasa Inggris saya dan istri juga ikut kursus bahasa Inggris. Artinya, dengan berbagai persiapan itu, mungkin saya akan bisa menyelesaikan soal-soal tes dengan baik. Tapi saya menyadari, boleh jadi untuk kasus pertama saya melakukan kecerobohan sehingga ada kesalahan dalam mengisi lembar jawaban, atau untuk kasus yang kedua, boleh jadi nilai peserta yang lain jauh lebih tinggi daripada nilai yang saya peroleh sehingga saya tidak mencapai passing grade nilai yang dibutuhkan untuk lolos pada tahap berikutnya.

Terakhir, saya tidak seharusnya lolos, artinya ada ketentuan Allah yang menetapkan saya untuk tidak lolos. Allah Yang Maha Tahu. Tentu bukan kapasitas saya untuk mempertanyakannya. Insya Allah, ada beragam kebaikan yang Allah janjikan di balik ketidaklolosan ini, sebab sejatinya hidup bukanlah apa yang kita ingini, tapi hidup adalah apa yang kita jalani. Lanjutkanlah cerita hidup ini, yakinlah Allah Maha Luas Rejeki-Nya. Wallahu ‘alamu bisshawab.