Membaca Akhlak Infotainment

Dikdik Baehaqi Arif*

‘Awalnya malu-malu lama-lama mau’, demikian bunyi iklan yang pernah terpajang lebar di sudut-sudut kota dan sempat menghentak nurani kita. Sekalipun beberapa pemimpin daerah merespon untuk menurunkan tayangan iklan itu, tetapi kita tetap bertanya, apa yang diinginkan produsen rokok itu?

Kita menyaksikan media televisi, media cetak, online, dan lainnya getol menyuguhkan informasi tentang para pesohor negeri lewat program infotainment (baca: gossip). Tiada hari tanpa gosip. Mulai informasi kedekatan dua pasangan selebiriti, jalinan asmara, perkawinan, permasalahan rumah tangga, sampai perceraian disajikan dengan beragam cara untuk menarik publik. Termasuk juga informasi kelahiran, kematian juga menjadi tayangan yang tidak terlewatkan. Pokoknya, segala hal yang berkaitan dengan selebriti, baik atau buruk tersaji lewat infotainment itu. Lagi-lagi kita bertanya, apa yang diingingkan program infotainment itu?

Iklan yang bernada pornografi, dan derasnya infotainment yang disuguhkan telah menyebabkan ‘segala sesuatu’ menjadi hal yang boleh dan biasa di mata masyarakat. Pudarlah sekat wilayah privat – yang menjadi hak pribadi setiap individu – dan wilayah publik yang menjadi hak masyarakat umum. Lepaslah kriteria benar (haq) dan salah (bathil). Untuk menyebut contoh, intim dua pasangan berbeda jenis kelamin di depan publik – seperti tergambar dalam iklan rokok – hamil di luar nikah, perzinahan, dan tindakan asusila lainnya ditanggapi masyarakat sebagai hal biasa, tidak perlu dirisaukan, dan tak ada kaitannya dengan kriteria benar atau salah. Bagi para pelaku, tersebarnya aib tidak menyebabkan mereka merasa malu, malah sebaliknya, mereka dengan bangga memperkenalkan anak hasil hubungan di luar nikah, memperkenalkan pasangan di luar nikah, bahkan mempertontonkan keintiman mereka di depan publik.

Jika mengiklankan pornografi dan menyiarkan aib seseorang terus dilakukan dan tidak ada lagi pertimbangan moral mayarakat untuk menerima atau menolaknya, maka disadari atau tidak, kita tengah menanam benih kehancuran dalam masyarakat kita. Apabila terus dibiarkan, bukan mustahil kita akan menyaksikan masyarakat kita hancur karena tidak memiliki akhlak, watak, atau karakter baik untuk membangun diri dan masyarakat.

Menunjukkan perbuatan pornografi di ruang publik jelas merupakan kesalahan. Demikian juga perbuatan menceritakan aib orang lain – dikenal dengan ghibah – jelas-jelas terlarang dan perbuatan dosa. Ghibah berdosa karena menunjukkan adanya kezaliman terhadap orang lain dengan menyakiti hati orang yang digunjingkan.

Bagaimana sesuatu bisa dianggap ghibah? Dalam salah satu keterangan hadits, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah.” Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Yaitu engkau menceritakan saudaramu apa yang tidak ia suka.” Ada yang bertanya: Bagaimana jika apa yang aku katakan benar-benar ada pada saudaraku?. Beliau menjawab: “Jika padanya memang ada apa yang engkau katakan maka engkau telah mengumpatnya dan jika tidak ada maka engkau telah membuat kebohongan atasnya.” (Riwayat Muslim). Perumpamaan mereka yang melakukan ghibah dilukiskan Allah SWT dalam keterangan Al Qur’an, bahwasanya ghibah pada saudara seiman sama artinya dengan memakan bangkai saudara sendiri. Tentu saja perilaku memakan bangkai saudara adalah perbuatan menjijikan dan tidak normal.

Meski begitu, ada kesepakatan ulama yang memperbolehkan kita membicarakan orang lain. Kesepakatan itu adalah: 1) Membicarakan orang yang akan berbuat zalim (kepada kita) kepada orang yang dianggap mampu menangani masalah tersebut; 2) Membicarakan orang yang berbuat munkar kepada orang yang kita mintai bantuan untuk mengubah kemunkaran tersebut; 3) Membicarakan orang untuk dimintakan fatwa (mengenai orang tersebut); 4) Membicarakan orang untuk dijadikan cermin dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu menyebutkan nama orang yang bersangkutan (jika memang tidak diperlukan); 5) Mengumumkan atau menerangkan kefasikan seperti pemakai narkoba yang oleh pecandunya hal tersebut begitu dibangga-banggakan; dan 6) Mengetahui identitas orang yang diperlukan karena tidak cukup hanya dengan mengenal namanya saja.

Keenam hal di atas boleh dilakukan, sepanjang maksudnya sesuai. Tetapi, harus diingat bahwa siapa saja yang dapat menutup kekurangan saudaranya, maka sejatinya tidak hanya menutup kekurangan saudaranya, tetapi ia telah menutup kekurangannya sendiri di dunia dan kelak di akhirat. Dalam salah satu keterangan hadits, Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (Riwayat Muslim).

Sudah saatnya, tayangan-tayangan yang bernada pornografi dan melulu menceritakan kekurangan seseorang dihentikan. Masyarakat memang butuh informasi, tetapi hendaknya informasi itu disampaikan secara proporsional dan mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat dan makin memeperkuat akhlak kewargaan (civic virtue) yang baik. “Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan kekurangannya (aibnya) sehingga ia tidak memperhatikan kekurangan (aib) orang lain.

*Penulis adalah Dosen Universitas Ahmad Dahlan, dan Penggagas Lingkar Studi Kewargangaraan PPKn UAD

Dimuat dalam ‘Rubrik Lentera’ Koran Sindo Yogya, Senin 27 April 2015, hlm 8